surabaya Archive

  • Celebrating Indonesian Independence Day, Suroboyo Bus Has Launched a New Route (MERR)

    Precisely on the commemoration of Indonesian Independece Day, Suroboyo Bus has launched its new route on the MERR line. The long-awaited new route officially operates on August 17, 2019.

    The current situation inside Suroboyo Bus

    The opening of the new route manifested as a form of fulfilling requests from Surabaya’s residents since there has been no Suroboyo Bus route in the MERR area previously. The obligation remains the same in which the passengers need to bring plastic bottles with certain conditions. By swapping bottles for bus tickets, it is useful to help reduce plastic waste.

    The new routes in the MERR area start from Jalan Kenjeran to Gunung Anyar. At Gunung Anyar, it starts from the U-Turn Jalan Gunung Anyar Timur. Then, head north until the third turn of Jalan Kenjeran that leads to Kenjeran Park. Moreover, this bus will also pass several points such as Galaxy Mall, Kendangsari Hospital, ITS, etc.

    Park and Ride Jalan Arief Rachman Hakim No. 100, Surabaya

    The length of the MERR route is around 27 kilometers and along the route there are 35 bus stops as well as bus station. This number will continue to be evaluated in line with the needs in the field. Therefore, if it is deemed lacking, then it will add a few more of bus stops.

    During the launch, there were only 3-4 bus fleets used to serve this new route. However, people do not need to worry about waiting for the arrival of Suroboyo Bus since it can be monitored on the Gobis Suroboyo Bus application.

     

    Furthermore, Suroboyo Bus is also completed with direction’s voice over, narrated with three languages: Bahasa Indonesia, English, and Suroboyoan. This becomes the other uniqueness and appeal from the bus instead of its eye catching design.

    Suroboyo Bus’s officer gives the ticket to the passengers

    Starting today, hopefully Surabaya’s residents will start using Suroboyo Bus and other public transportation due to the some advantages starting from reducing congestion, decreasing pollution, saving fuel, up to the issue of student’s safety. We hope that students under 17 years old or haven’t received their driving license are expected to be able to use the Suroboyo Bus, mainly for mutual safety.

     

     

  • Gala Premiere Perburuan dan Bumi Manusia, Para Cast dan Kru Film Mengenakan Batik

    Kehadiran rombongan dua tim produksi film Perburuan dan Bumi Manusia menjadi magnet tersendiri bagi warga Surabaya. Sejak siang mereka telah memadati area Surabaya Town Square untuk menyaksikan Gala Premiere film Perburuan dan Bumi Manusia. Acara Gala Premiere kedua film itu memang dilangsungkan pada hari yang sama (Jumat, 09/08/19) namun pada waktu yang berbeda. Meet n greet film Perburuan diadakan terlebih dahulu sekitar pukul 11.00 WIB, sedangkan film Bumi Manusia pada malam harinya sekitar pukul 18.00 WIB.

    All cast dan kru film Perburuan dan Bumi Manusia

    Menariknya, dari serangkaian acara Gala Premiere tersebut, all cast dan kru film mengenakan batik. Tidak hanya itu, para pemenang giveaway tiket Gala Premiere pun juga diwajibkan mengenakan dresscode batik. Alhasil, penampilan para pemain dan kru film pun juga semakin memancarkan karisma dan pesonanya lewat batik yang mereka pakai.

    Jika siang harinya acara ini sudah meriah, maka malam harinya pun tak kalah meriah. Seluruh pemain film Perburuan dan Bumi Manusia beserta kru film tampil berlenggak-lenggok di karpet merah. Sudah sedari sore hari para fans dan penonton menanti kehadiran rombongan ini. Sesaat setelah MC menyebutkan satu persatu pemain, diawali dari keluarga Warkop DKI Reborn (Om Indro), keluarga Om Pram, keluarga Hanung dan Richard Oh, pemain film Perburuan, dan diakhiri dengan keluarga film Bumi Manusia.

    Om Indro mulai berjalan di red carpet

    Film Perburuan disutradarai oleh Richard Oh dan dibintangi Adipati Dolken (sebagai Hardo) dan Ayushita (sebagai Ningsih). Sementara itu, Bumi Manusia disutradarai oleh Hanung Bramantyo yang menunjuk Iqbaal Ramadhan (sebagai Minke), Mawar de Jongh (sebagai Annelies), dan Sha Ine Febriyanti (sebagai Nyai Ontosoroh) sebagai bintang utamanya.

    Kedua film ini diangkat dari novel karya Pramoedya Ananta Toer dan semalam keluarga Pramoedya Ananta Toer pun ikut hadir serta mengaku puas dengan kerja keras para cast dan kru film. Menambah kemeriahan acara, turut hadir pula Iwan Fals dan Once Mekel sebagai penyanyi soundtrack film Bumi Manusia. Lagu Ibu Pertiwi yang dinyanyikan Iwan Fals dan Once Mekel melantun indah di atrium Surabaya Town Square tadi malam.

    Iwan Fals dan Once Mekel saat menyanyikan soundtrack lagu Ibu Pertiwi

    Lewat sambutannya di depan panggung tadi malam dan di hadapan pemain Bumi Manusia serta ratusan penggemarnya di pinggir karpet merah, Iqbaal mengucapkan terima kasih dan meminta pengunjung untuk mengapresiasi tim film Bumi manusia. “Terima kasih untuk waktu dan pikiran. Selanjutnya, saya minta tepuk tangan untuk semua pemain dan kru Bumi Manusia,” seru Iqbaal dalam kata sambutannya.

    Saat ditanya MC apa momen yang tidak terlupakan selama penggarapan film Bumi Manusia, Iqbal pun berkata “Semua enggak terlupa karena dapat peran Minke itu tanggung jawab. Buku legendaris dari sastrawan legendaris. Tiga bulan workshop dan tiga bulan syuting. Unforgettable moment dan hari ini gala premiere,” kata Iqbal.

    Terakhir, film Perburuan dan Bumi Manusia sendiri sudah bisa dinikmati lewat penayangannya di seluruh bioskop Indonesia pada 15 Agustus 2019 mendatang.

  • ‘Bercanda Bareng Marchella FP’ di Tur Buku Pertama KTBB di Surabaya

    “Kamu Terlalu Banyak Bercanda” adalah gelap untuk terangnya “Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini”. Kalimat inilah yang terpatri pada prekuel buku kedua Marchella FP. Sukses dengan buku pertamanya (NKCTHI), buku keduanya ini (KTBB) seolah akan mengikuti jejak buku sebelumnya yang sudah menjadi best seller.

    Surabaya pun jadi kota beruntung pertama yang menjadi pemberhentian tim Marchella FP untuk melakukan book tour sebelum melanjutkan tur buku lainnya ke enam kota besar lainnya di Indonesia seperti Makassar, Denpasar, Medan, Yogyakarta, Jakarta, dan Bandung.

    Tur Buku Pertama KTBB di C2O Library & Collabtive, Surabaya

    (Sabtu, 03 Agustus 2019), Marchella FP bersama tim gelar acara bertajuk ‘Bercanda Bareng Marchella FP’ di C2O Library & Collabtive. Sejak pukul satu siang, para peserta sudah memadati lokasi. Peserta pun diarahkan ke meja registrasi dan dibagi ke dalam dua jalur antrean: datang ke event saja atau membeli buku juga. Bagi yang ingin membeli buku, bisa langsung OTS disana, caranya cukup meng-install aplikasi Blibli.com terlebih dahulu kemudian buku bisa dibeli seharga Rp. 125.000. Blibli.com ditunjuk sebagai distributor eksklusif dari buku ini.

    Pihak Blibli.com pun menyediakan kurang lebih 200 buku untuk dijual saat acara tur buku pertama di Surabaya ini. Bagi peserta yang membeli langsung di tempat, lewat harga Rp. 125.000 tersebut peserta sudah bisa mendapatkan satu goodie bag lengkap beserta isinya antara lain satu buku KTBB lengkap dengan stiker dan amplop surat didalamnya, satu pena, dan satu Mocacinno coffee dari Good Day. Plus, bagi 50 peserta yang datang paling awal akan mendapatkan voucher potongan harga buku, dari yang awalnya Rp. 125.000 menjadi Rp. 100.000 saja. Selain itu, peserta juga diajak untuk mengunggah foto keseruan selama acara dan berkesempatan untuk memenangkan Fujifilm Instax Mini Liplay.

    Marchella FP dan Tim

    Acara tur buku pun berjalan cair dan fun karena gaya kocak MC, Reza Chandika, yang bisa membuat suasana disana makin hidup dan tidak terlalu tegang. Lebih lanjut, pada kesempatan ini Marchella juga bercerita bahwa buku yang ditulisnya sejak tahun 2008 ini memuat sisi lain dari Awan, tokoh utama pada kedua bukunya. Ia ingin menampilkan sisi lain Awan tokoh utamanya yang jarang ditunjukkan seperti kemarahan, kesedihan, perasaan ragu, dan ketakutan.

    Marchella sendiri juga sebenarnya tak ingin dirinya disebut penulis. Ia bukan berlatarbelakang sebagai anak Sastra, dan menulis ini sebetulnya hanya merupakan kegiatan yang biasa ia lakukan sepulang kerja. Ia juga berbagi tips teknik menulis kepada peserta, bahwa saat membuat karya juga perlu ‘dirasa-rasa’, boleh mengikuti pattern yang ada, namun juga sebaiknya tidak terlalu terpatok pada persentase untuk berapa persen ilustrasi atau berapa persen tulisan, intinya #mulaiajadulu.

    Book Signing Buku KTBB

    Sesi akhir acara ditutup dengan melakukan book signing sesuai nomor urutan dan foto bersama Marchella FP.

  • ‘Melanglang Buana’ Lewat Karya dan Transformasikan Ilustrasi Jadi Pundi-Pundi Rupiah

    Terbilang sedikit random namun juga pemilih, saya memang harus benar-benar menyeleksi acara yang akan saya ikuti. Meski tidak ada kaitannya dengan pekerjaan saya sehari-hari, namun menggambar dan seni lainnya merupakan bidang lain yang saya nikmati. Anything dealing with art, I enjoy that pretty much! Cukup dadakan sebenarnya dan tahu agenda ini pun dari Instagram story teman saya.

    Kalau biasanya nyari event yang cuma-cuma, kali ini harus sedikit berkorban selembar uang seratusan di dompet. Well, that’s okay! Pepatah mengatakan, “Ada harga, ada rupa.” Begitu pula dengan ini “Ada uang yang diinvestasikan, ada ilmu yang akan didapat.”

    (Minggu, 28/07/19), saya datang ke DiLo (Digital Innovation Lounge). Tiba disana agak terlambat karena salah lihat jadwal. But then, I met her. Ya, senang sekali bisa bertemu Kak Nasaya Mafaridik. Dia adalah salah satu ilustrator Internasional yang telah berkesempatan untuk berkolaborasi dengan salah satu pihak luar negeri untuk menerbitkan buku berjudul “Planet Omar.”

    Instagram.com/@pottergraphy.id

    Pesertanya beragam, mulai dari yang masih sekolah, kuliah, hingga yang sudah bekerja. Alasan mengikuti acara pun juga bervariasi. Saat sesi perkenalan masing-masing peserta, ada yang mengatakan bahwa memang mereka datang kesini untuk belajar desain, ada yang untuk mencari motivasi, ingin mengembangkan hobi menggambar, atau saling berbagi satu sama lain. Alhasil, saya pun cukup dibuat kaget karena peserta yang datang sebenarnya merupakan sosok-sosok yang berbakat, berangkat dari latar belakang yang berbeda-beda namun punya keinginan untuk belajar hal yang sama. Tentu saja, yang tak kalah keren adalah narasumbernya.

    Siapa sih Kak Nasaya ini?

    Instagram.com/@pottergraphy.id

    Buat kalian yang penasaran dan belum tahu, let me introduce her to you! Sekilas bincang-bincang dengannya, ternyata Kak Nasaya Mafaridik dulunya berkuliah di salah satu universitas negeri di Jawa Barat. Kini ia telah menikah dan berprofesi sebagai ilustrator. Projek pertama yang sekaligus memperbesar namanya kini yaitu projek buku Planet Omar.

    What did I get after joining this workshop?

    Instagram.com/@pottergraphy.id

    Well, I got lot of things and for sure, sharpening my knowledges. Melalui workshop ini, saya dan teman-teman lainnya belajar banyak materi seperti pengenalan gambar digital yang selama ini Kak Nasaya pelajari, terus juga belajar bagaimana cara mengatur workflow yang lebih teratur (supaya tidak banyak gambar setengah jadi yang terbengkalai dan belajar supaya bisa menyelesaikan projek agar tidak hilang arah di tengah jalan).

    Eits nggak hanya itu, tapi kita juga bereksplorasi, mencari tahu apa yang sebenarnya ‘style kita banget’ karena pada dasarnya tiap orang punya style masing-masing. Menurut Nasaya, “Kamu itu uniqlo, mulai dari warna sampai guratan, pasti tiap orang punya preferensi yang berbeda.”

    Referensi buku yang tepat untuk belajar gambar atau desain dari Kak Nasaya itu apa?

    Ada banyak sih, salah satunya “Always be Creating, a Field Guide to Living a Creative Life” dari Abbey Sy. Selain itu, masih ada beberapa buku-buku cantik lainnya yang bisa jadi referensi kita untuk belajar gambar dan desain, ada yang bisa didapatkan dari bazaar buku atau bentuk ebook, karena mostly bukunya adalah buku luar sehingga untuk menghemat dana bisa dengan mengunduh versi online saja.

    Bagaimana cara bisa menemukan style kita sendiri?

    Instagram.com/@pottergraphy.id

    Menurut Kak Nasaya, cara paling mudah untuk menemukan style kita sendiri yakni dengan terus berlatih menggambar. Sah-sah saja mengikuti style ilustrator lainnya, misalnya dari ilustrator yang kita kagumi, namun jangan membuat karya yang persis dengan ilustrator idola kita, pastikan untuk lebih berkreasi atau berksplorasi, sehingga karya kita nantinya tidak dikatakan plagiat atau copy paste.

    How to create an outstanding artwork from others?

    Cara untuk membuat karya kita lebih menonjol dari orang lain yakni dengan memiliki style atau keunikan sendiri, cara publikasi, dan juga teknik posting di media sosial. “Pemilihan hastag dan pengaturan jadwal posting itu penting, lho. Dari sana kita bisa tahu seberapa banyak engagement yang kita dapatkan dari audiens.”tambah Nasaya

    Pertama, kita mem-follow orang-orang yang diikuti oleh artist yang kita suka, cek di bagian following, dan mulai klik follow. Kemudian untuk pemilihan hastag, sebaiknya menggunakan hastag yang tidak terlalu banyak digunakan orang. Katakanlah, sudah ada ratusan juta orang yang menggunakan tagar Illustration, namun masih sedikit yang memakai hastag #makingarteveryday atau #doodleaday. Boleh sih terkadang masih dikombinasikan, intinya pinter-pinter aja cari hastag yang bisa memunculkan karya kita agar dilihat orang lain.

    Bagaimana cara Kak Nasaya bisa bekerjasama menjadi ilustrator dengan pihak luar negeri?

    Formulanya dari yang sudah disebutkan di atas. Ini adalah projek pertama Kak Nasaya dengan pihak luar negeri. Ia mendapatkan kesempatan untuk menjadi ilustrator buku Planet Omar. Mula-mulanya, ia menerima email dari pihak sana namun masuk spam. Bahkan, awalnya Kak Nasaya mengira ini bukan projek ‘abal-abal’, namun ternyata setelah ditelusuri ternyata ini memang bukan bohongan. Dari sana, ia mulai berkomunikasi dan membicarakan seputar kontrak dan peraturan terkait penerbitan buku.

    Tidak ada kesulitan yang signfikan sebetulnya saat berkomunikasi, namun ada beberapa part yang mungkin masih baru bagi Kak Nasaya, misalnya arti dari kata flash yang ternyata punya makna berbeda. Hal ini dikarenakan beda aksen bahasa Inggris antara British atau American. Selebihnya, fine-fine saja.

    Buku Planet Omar pun merupakan best seller book yang dipublikasikan di Inggris, Australia, dan Amerika. Meskipun tidak bisa diundang secara langsung di acara book launch-nya, namun menurut Kak Nasaya ini merupakan pengalaman yang luar biasa dan langkah awal kesuksesannya.

    Bicara soal fee, berapa sih gaji yang didapatkan Kak Nasaya untuk projek tersebut?

    Tentu saja nominalnya lebih banyak daripada biasanya. Dalam projek ini, Kak Nasaya diserahi tugas untuk membuat ilustrasi, namun sesekali ia juga menambahkan hand lettering. Jadi, ia mengajukan tambahan uang untuk hand lettering tersebut. Menurut Kak Nasaya, hitungan fee yang ia dapat berdasarkan berapa banyak ilustrasi yang ia buat dan tidak masalah untuk berani mengajukan tambahan gaji apabila memang ada tambahan variasi ilustrasi yang kita buat. Terkait soal royalti, memang seorang ilustrator sistemnya pekerja lepas, selesai projek sudah selesai, sedangkan royalti akan diberikan kepada penulis dan sisanya untuk pihak penerbit.

    Kesimpulan
    Selain belajar dengan Kak Nasaya, kita juga belajar tentang pembuatan GIF oleh Kak Luna. Ia merupakan peserta yang sudah pernah membuat GIF dan mendapatkan viewers yang banyak di Instagram. Dalam kesempatan ini pula ia berbagi kepada kita cara membuat GIF menggunakan aplikasi procreate dan mengunggah di GIPHY.

    Instagram.com/@pottergraphy.id

    Plus, Kak Nasaya juga berbagi soal platorm selain seperti YouTube untuk belajar yakni Skill Share. Menurutnya, platform ini cukup efektif untuk metode belajar digital drawing di samping YouTube, karena pada sesi akhir kelas kita bisa menunjukkan desain kita untuk kemudian diberikan feedback. Harganya pun masih affordable untuk setahunnya.

    Instagram.com/@pottergraphy.id

    Sesi akhir ditutup dengan foto-foto dan tukar nomor atau medsos masing-masing peserta. Hehe. Thank you SyariHub yang telah mengadakan workshop ini, DiLo, Campuspedia, dan juga Kak Nasaya yang telah berkenan membagikan ilmunya!