Keliling Surabaya Archive

  • Eks Kantor “Handelsvereeniging Amsterdam” (HVA), Ini Wajah Baru Gedung PTPN XI dan Bunker-nya

    Surabaya Heritage Track (SHT) House of Sampoerna siap melaju ke dua rute pagi itu (03/04/2019). Dikarenakan tanggal merah, agenda tema tour ke radio tua Surabaya dibatalkan karena tutup. Sayang sekali memang, hari libur karena tanggal merah peringatan Isra Mi’raj yang sudah dimanfaatkan pengunjung untuk ikut visit kali ini mendadak batal karena dua rute itu ikut libur, Radio RRI dan Radio Bekupon Surabaya.

    dok./ficca

    Mengobati kekecewaan pengunjung, SHT pun kembali ke rute reguler. Sesi pukul 10.00-11.00 WIB berhenti di dua pemberhentian. First stop adalah Monumen Tugu Pahlawan. Namun, karena keterbatasan waktu, tour guide hanya menjelaskan area depan saja tanpa masuk ke dalam. Meskipun demikian, pengunjung tetap antusias mendengarkan kata demi kata yang disampaikan oleh Mas Aji dan tetap ber-selfie dengan latar belakang Monumen.

    dok./ficca

    Puas menikmati keindahan Monumen Tugu Pahlawan, sopir melajukan bus ke arah PTPN XI. Kantor Pusat PT Perkebunan Nusantara XI ini dulunya merupakan kantor Handelsvereeniging Amsterdam (HVA) atau Asosiasi Pedagang Amsterdam. HVA berdiri di Amsterdam pada tahun 1879, berdagang gula, kopi, dan singkong.

    dok./ficca

    Pembangunan gedung HVA di Surabaya dimulai pada tahun 1911 dan selesai dikerjakan pada tahun 1921. Peresmiannya sendiri baru dilakukan pada 18 April 1925. Sebelumnya di tempat itu berdiri Gedung Pertunjukkan Surabaya yang ketiga. Dengan total 167 pabrik gula di Jawa yang dikendalikan HVA, menghasilkan delapan juta ton gula per tahun.

    Halaman depan Gedung PTPN XI
    dok./ficca

    Keistimewaan Gedung PTPN XI

    Gedung dua lantai yang berdiri di atas lahan seluas 1.6 hektar ini memiliki bangunan utama seluas 2.016 meter persegi dan bangunan penunjang yang luasnya 4.126 meter persegi. Material didatangkan langsung dari Belanda dan Italia seperti kaca, besi, sampai pegangan tangga.

     

    “Bangunan ini juga mengusung konsep dilatasi. Tujuannya agar apabila ada gempa, salah satu bangunan saja yang runtuh, namun bangunan lainnya masih bisa diselamatkan.”ungkap Aji

    Menurut pengertiannya, dilatasi adalah sebuah sambungan atau pemisahan pada bangunan karena sesuatu hal memiliki sistem struktur berbeda. Hal ini dilakukan agar pada saat terjadinya beban (gaya vertikal dan horizontal, seperti pergeseran tanah atau gempa bumi) pada bangunan tidak menimbulkan keretakan atau putusnya sistem struktur bangunan tersebut.

    dok./ficca

    Meski gedung ini merupakan peninggalan zaman Belanda, namun tetap saja ada kesan baru yang ditampilkan agar jauh dari kata seram, tapi tetap dengan tidak mengubah total keseluruhan arsitekturnya. Misalnya, di lantai bawah gedung PTPN XI terdapat sebuah bunker. Dulunya bunker ini mungkin sempit dan pendek, namun kini sudah direnovasi sehingga tidak seberapa pengap dan sedikit terlepas dari kesan horor.

    Sejarah Gedung PTPN XI
    dok./ficca

     

    Bunker ini seolah menjadi saksi zaman kolonial Belanda. Disini, pengunjung bisa melihat deretan papan berjajar rapi di dinding bunker yang menceritakan sejarah gedung, pabrik gula, sosok Oei Tiong Ham, dsb.

    Oei Tiong Ham
    dok./ficca

    Melalui UU Gula, perusahaan-perusahaan swasta di Eropa menanamkan modalnya di Hindia Belanda (Indonesia). Pada awal abad ke-20, hampir semua karisidenan di Pulau Jawa memiliki pabrik gula. Karesidenan dengan pabrik gula paling banyak adalah karesidenan Surabaya yaitu mempunya 42 pabrik gula. Rinciannya adalah di Sidoarjo 20 pabrik gula, di Surabaya 10 pabrik gula, di Mojokerto 1 pabrik gula, di Jombang 11 pabrik gula.

    Dengan banyaknya pabrik gula waktu itu, Hindia Belanda menjadi eksportir gula terbesar nomor 2 di dunia setelah Kuba. Dari kalangan kerajaan di Jawa tercatat Raja Mangkunegaran IV mempunyai 2 (dua) pabrik gula yaitu Tasikmadu dan Colomadu di Surakarta.

    Industri gula telah mengantarkan Oei Tiong Ham seorang Tionghoa dari kota Semarang menjadi raja gula Indonesia dan merupakan orang terkaya di Hindia Belanda pada abad ke-19.

    dok./ficca

    Keluar dari bunker, peserta dibebaskan untuk melihat-lihat isi gedung, mulai dari lantai bawah atau ke lantai berikutnya. Kalau naik ke atas, pengunjung bisa menjumpai ruangan Direktur Utama dimana terdapat kursi dan meja jati asli sejak masa Belanda. Apabila diperhatikan dengan detil, ruangan ini juga dihiasi dengan relief menamam tebu, panen kopi, panen tebu sebagai gambaran dari aktivitas perkebunan masa Belanda.