Terbilang sedikit random namun juga pemilih, saya memang harus benar-benar menyeleksi acara yang akan saya ikuti. Meski tidak ada kaitannya dengan pekerjaan saya sehari-hari, namun menggambar dan seni lainnya merupakan bidang lain yang saya nikmati. Anything dealing with art, I enjoy that pretty much! Cukup dadakan sebenarnya dan tahu agenda ini pun dari Instagram story teman saya.

Kalau biasanya nyari event yang cuma-cuma, kali ini harus sedikit berkorban selembar uang seratusan di dompet. Well, that’s okay! Pepatah mengatakan, “Ada harga, ada rupa.” Begitu pula dengan ini “Ada uang yang diinvestasikan, ada ilmu yang akan didapat.”

(Minggu, 28/07/19), saya datang ke DiLo (Digital Innovation Lounge). Tiba disana agak terlambat karena salah lihat jadwal. But then, I met her. Ya, senang sekali bisa bertemu Kak Nasaya Mafaridik. Dia adalah salah satu ilustrator Internasional yang telah berkesempatan untuk berkolaborasi dengan salah satu pihak luar negeri untuk menerbitkan buku berjudul “Planet Omar.”

Instagram.com/@pottergraphy.id

Pesertanya beragam, mulai dari yang masih sekolah, kuliah, hingga yang sudah bekerja. Alasan mengikuti acara pun juga bervariasi. Saat sesi perkenalan masing-masing peserta, ada yang mengatakan bahwa memang mereka datang kesini untuk belajar desain, ada yang untuk mencari motivasi, ingin mengembangkan hobi menggambar, atau saling berbagi satu sama lain. Alhasil, saya pun cukup dibuat kaget karena peserta yang datang sebenarnya merupakan sosok-sosok yang berbakat, berangkat dari latar belakang yang berbeda-beda namun punya keinginan untuk belajar hal yang sama. Tentu saja, yang tak kalah keren adalah narasumbernya.

Siapa sih Kak Nasaya ini?

Instagram.com/@pottergraphy.id

Buat kalian yang penasaran dan belum tahu, let me introduce her to you! Sekilas bincang-bincang dengannya, ternyata Kak Nasaya Mafaridik dulunya berkuliah di salah satu universitas negeri di Jawa Barat. Kini ia telah menikah dan berprofesi sebagai ilustrator. Projek pertama yang sekaligus memperbesar namanya kini yaitu projek buku Planet Omar.

What did I get after joining this workshop?

Instagram.com/@pottergraphy.id

Well, I got lot of things and for sure, sharpening my knowledges. Melalui workshop ini, saya dan teman-teman lainnya belajar banyak materi seperti pengenalan gambar digital yang selama ini Kak Nasaya pelajari, terus juga belajar bagaimana cara mengatur workflow yang lebih teratur (supaya tidak banyak gambar setengah jadi yang terbengkalai dan belajar supaya bisa menyelesaikan projek agar tidak hilang arah di tengah jalan).

Eits nggak hanya itu, tapi kita juga bereksplorasi, mencari tahu apa yang sebenarnya ‘style kita banget’ karena pada dasarnya tiap orang punya style masing-masing. Menurut Nasaya, “Kamu itu uniqlo, mulai dari warna sampai guratan, pasti tiap orang punya preferensi yang berbeda.”

Referensi buku yang tepat untuk belajar gambar atau desain dari Kak Nasaya itu apa?

Ada banyak sih, salah satunya “Always be Creating, a Field Guide to Living a Creative Life” dari Abbey Sy. Selain itu, masih ada beberapa buku-buku cantik lainnya yang bisa jadi referensi kita untuk belajar gambar dan desain, ada yang bisa didapatkan dari bazaar buku atau bentuk ebook, karena mostly bukunya adalah buku luar sehingga untuk menghemat dana bisa dengan mengunduh versi online saja.

Bagaimana cara bisa menemukan style kita sendiri?

Instagram.com/@pottergraphy.id

Menurut Kak Nasaya, cara paling mudah untuk menemukan style kita sendiri yakni dengan terus berlatih menggambar. Sah-sah saja mengikuti style ilustrator lainnya, misalnya dari ilustrator yang kita kagumi, namun jangan membuat karya yang persis dengan ilustrator idola kita, pastikan untuk lebih berkreasi atau berksplorasi, sehingga karya kita nantinya tidak dikatakan plagiat atau copy paste.

How to create an outstanding artwork from others?

Cara untuk membuat karya kita lebih menonjol dari orang lain yakni dengan memiliki style atau keunikan sendiri, cara publikasi, dan juga teknik posting di media sosial. “Pemilihan hastag dan pengaturan jadwal posting itu penting, lho. Dari sana kita bisa tahu seberapa banyak engagement yang kita dapatkan dari audiens.”tambah Nasaya

Pertama, kita mem-follow orang-orang yang diikuti oleh artist yang kita suka, cek di bagian following, dan mulai klik follow. Kemudian untuk pemilihan hastag, sebaiknya menggunakan hastag yang tidak terlalu banyak digunakan orang. Katakanlah, sudah ada ratusan juta orang yang menggunakan tagar Illustration, namun masih sedikit yang memakai hastag #makingarteveryday atau #doodleaday. Boleh sih terkadang masih dikombinasikan, intinya pinter-pinter aja cari hastag yang bisa memunculkan karya kita agar dilihat orang lain.

Bagaimana cara Kak Nasaya bisa bekerjasama menjadi ilustrator dengan pihak luar negeri?

Formulanya dari yang sudah disebutkan di atas. Ini adalah projek pertama Kak Nasaya dengan pihak luar negeri. Ia mendapatkan kesempatan untuk menjadi ilustrator buku Planet Omar. Mula-mulanya, ia menerima email dari pihak sana namun masuk spam. Bahkan, awalnya Kak Nasaya mengira ini bukan projek ‘abal-abal’, namun ternyata setelah ditelusuri ternyata ini memang bukan bohongan. Dari sana, ia mulai berkomunikasi dan membicarakan seputar kontrak dan peraturan terkait penerbitan buku.

Tidak ada kesulitan yang signfikan sebetulnya saat berkomunikasi, namun ada beberapa part yang mungkin masih baru bagi Kak Nasaya, misalnya arti dari kata flash yang ternyata punya makna berbeda. Hal ini dikarenakan beda aksen bahasa Inggris antara British atau American. Selebihnya, fine-fine saja.

Buku Planet Omar pun merupakan best seller book yang dipublikasikan di Inggris, Australia, dan Amerika. Meskipun tidak bisa diundang secara langsung di acara book launch-nya, namun menurut Kak Nasaya ini merupakan pengalaman yang luar biasa dan langkah awal kesuksesannya.

Bicara soal fee, berapa sih gaji yang didapatkan Kak Nasaya untuk projek tersebut?

Tentu saja nominalnya lebih banyak daripada biasanya. Dalam projek ini, Kak Nasaya diserahi tugas untuk membuat ilustrasi, namun sesekali ia juga menambahkan hand lettering. Jadi, ia mengajukan tambahan uang untuk hand lettering tersebut. Menurut Kak Nasaya, hitungan fee yang ia dapat berdasarkan berapa banyak ilustrasi yang ia buat dan tidak masalah untuk berani mengajukan tambahan gaji apabila memang ada tambahan variasi ilustrasi yang kita buat. Terkait soal royalti, memang seorang ilustrator sistemnya pekerja lepas, selesai projek sudah selesai, sedangkan royalti akan diberikan kepada penulis dan sisanya untuk pihak penerbit.

Kesimpulan
Selain belajar dengan Kak Nasaya, kita juga belajar tentang pembuatan GIF oleh Kak Luna. Ia merupakan peserta yang sudah pernah membuat GIF dan mendapatkan viewers yang banyak di Instagram. Dalam kesempatan ini pula ia berbagi kepada kita cara membuat GIF menggunakan aplikasi procreate dan mengunggah di GIPHY.

Instagram.com/@pottergraphy.id

Plus, Kak Nasaya juga berbagi soal platorm selain seperti YouTube untuk belajar yakni Skill Share. Menurutnya, platform ini cukup efektif untuk metode belajar digital drawing di samping YouTube, karena pada sesi akhir kelas kita bisa menunjukkan desain kita untuk kemudian diberikan feedback. Harganya pun masih affordable untuk setahunnya.

Instagram.com/@pottergraphy.id

Sesi akhir ditutup dengan foto-foto dan tukar nomor atau medsos masing-masing peserta. Hehe. Thank you SyariHub yang telah mengadakan workshop ini, DiLo, Campuspedia, dan juga Kak Nasaya yang telah berkenan membagikan ilmunya!