Monthly Archives:April 2019

  • House of Sampoerna Gabungkan Dua Pameran Sekaligus, “Indonesia Bermusik” dan “Jeune Creation”

    Post Image

    Acara pameran seni kerap kali menyita perhatian. Tak hanya tinggi akan nilai seni namun juga erat kaitannya dengan unsur sejarah. Begitu pula dengan keriuhan momen pembukaan pameran malam kemarin (11/04/2019). Berlokasi di House of Sampoerna, pengunjung memadati ruangan untuk menyimak presentasi dari dua fotografer muda asal Perancis, Errel Hemmer dan Remi Decoster. Kendati malam itu adalah acara pameran bertajuk “Jeune Creation”, namun pihak HOS juga menggabungkannya dengan pameran Indonesia Bermusik.

    dok./ficca

    Sesi speech dari Errell dan Remi dilakukan di dalam ruangan tepat dimana pameran Indonesia Bermusik berlangsung, sedangkan pameran Jeune Creation memanfaatkan container yang diposisikan di luar ruangan sebagai tempat memamerkan karya atau hasil jepretan fotonya. Pameran fotografi ini diselenggarakan oleh IFI dan mengundang beberapa tokoh penting seperti budayawan yang ada di Surabaya. Sebelumnya, dilangsungkan acara press conference dengan rekan media dan esok harinya dilanjutkan dengan opening gallery lalu peresmian pembukaan pameran yang bisa dinikmati oleh warga Surabaya dengan gratis.

    dok./ficca

    Alur kegiatannya pengunjung melakukan registrasi terlebih dahulu, lalu diarahkan ke pameran Indonesia Bermusik sembari mendengarkan sambutan dari pihak IFI, Errell, dan Remi. Selepas itu, pengunjung juga berkesempatan untuk menikmati kudapan yang telah disajikan. Menariknya, diantara jajanan yang disuguhkan, ada kopi Tanamera yang patut untuk dicoba. Tanamera Coffee ini juga bisa dibeli di coffeeshop yang berada di satu area sebelah museum House of Sampoerna.

    Ada berbagai alat musik yang dipajang pada pameran Indonesia Bermusik ini mulai dari biola, gitar, gramaphone, hingga gamelan. Pameran ini sendiri digelar untuk memperingati Hari Musik Nasional dan berlangsung mulai tanggal 20 Maret-28 April 2019. Memamerkan lebih dari 150 koleksi dan jenis genre musik yang berbeda mulai dari pop, dangdut, rock, dsb.

    dok./ficca

    Para fotografer dari redaksi berita ternama berhasil mengabadikan momen-momen terbaik saat vokalis mengeluarkan suaranya yang merdu di atas panggung baik penyanyi dalam atau luar negeri. Tentunya dengan kualitas gambar yang baik dan ekspresi wajah dan pose penyanyi yang beragam. Mata pengunjung akan larut dalam nuansa vintage dan seolah dibawa ke masa-masa jadul atau era keemasan genre musik tersebut.

    dok./ficca

    Puas menikmati pameran Indonesia Bermusik, pengunjung diarahkan untuk mendengarkan speech singkat Errel sekali lagi untuk menjelaskan maksud atau arti dari jepretan fotonya di luar ruangan, tepatnya di depan container. Berbeda dari pameran Errel sebelumnya yang mengusung tema La Galerie des Glaces, kali ini Errel memilih konsep peti kemas industrial untuk memajang karyanya.

    dok./ficca

    Errel Hemmer, desainer grafis dan fotografer Perancis ini mengangkat tema yang berkaitan erat dengan lautan. Tema ini sengaja ia pilih dan mengaku terinspirasi dari sosok ayahnya yang merupakan seorang kapten kapal. Tapi satu hal yang masih sama, ia tetap mengenakan kamera analog dan hasil fotonya pun lebih dominan hitam putih serta artistik.

    dok./ficca

    Pada sudut peti kemas itu Errel juga memajang keterangan fotonya atau cerita panjang yang menginspirasinya untuk menampilkan karya ini dengan judul “Mengapa ku tak sanggup pergi ke makam ayah?” Foto-foto hasil jepretannya ini diabadikan setelah kepergian ayah Errel yang dulunya berprofesi sebagai kapten kapal. Objek yang ia bidik misalnya pelabuhan, lautan dan pesisir.

    dok./ficca

    Sementara itu, Remi Decoster memilih karya foto yang mengutamakan pendekatan sosial kemasyarakatan. Contohnya,  ia menjadikan perias laki-laki asal Bangkalan, Madura sebagai objek utama dari karya fotografinya. Foto ini sarat akan makna yakni menceritakan bagaimana kehidupan sehari-hari seorang perias, lingkungan kerja juga pembauran masyarakat. Pameran “Jeune Creation” bisa Anda nikmati mulai tanggal 12 hingga 27 April 2019.

     

  • Jack Ma dan Pingtan, Seni Rakyat Tradisional China yang Menggabungkan Musik dan Mendongeng

    Kata Pingtan ini tidak sengaja saya temukan saat membaca buku “Alibaba’s World”. Buku ini ditulis oleh Porter Erisman selaku eks Vice President Alibaba. Tak banyak orang tahu kalau ternyata orang tua Jack Ma dulu bekerja sebagai pingtan performer (musik bernarasi).

    Darah seni yang dimiliki oleh pria yang lahir di Hangzhou, China ini ternyata diwariskan dari kedua orang tuanya itu dimana hal tersebut membuatnya sangat lihai dalam menampilkan performanya di depan umum.

    discover.china.org.cn

    Lalu apa itu Pingtan?

    Pingtan adalah seni rakyat tradisional China yang menggabungkan musik dan mendongeng. Sumber lain mengatakan bahwa pingtan bisa diartikan sebagai profesi pendongeng cerita tradisional dan penyanyi balada. Dilansir dari laman Discover China, Pingtan merupakan seni pertunjukan lisan yang berasal dari Suzhou semasa Dinasti Ming. Komponen yang harus dimiliki untuk menjadi penampil pingtan yakni kemampuan bermusik Tanci (弹词) dan bercerita Pinghua (评 话), yang dilakukan dalam dialek Suzhou. Tanci, yang memadukan narasi prosa dengan nyanyian lirik yang diiringi oleh Pipa atau instrumen tiga dawai, dapat dipertunjukkan solo, duet atau trio. Pinghua biasanya dilakukan oleh seorang pendongeng tanpa bernyanyi. Pingtan sendiri sudah cukup populer di daerah selatan Sungai Yangtze selama lebih dari 400 tahun. Terbukti hal ini telah tertulis dalam Daftar Warisan Budaya dan Kesenian Nasional (National Intangible Cultural Heritage) pertama di Tiongkok.

    discover.china.org.cn

    Mengapa pingtan begitu populer dan diminati?

    Pingtan, genre musik yang populer di Jiangsu selatan dan provinsi Zhejiang utara, dan Shanghai ini awalnya dipopulerkan saat masa Dinasti Qing (1644-1911) dimana kala itu muncul ketika ekonomi Suzhou berkembang. Pingtan begitu dikagumi karena penampilan melodi yang indah dan memukau, semua disuarakan dalam dialek yang lembut. Seluruh pertunjukan, biasanya bertema legenda sejarah, dapat berlangsung lebih dari 30 jam, dan dilakukan dalam bab terpisah yang berlangsung dalam beberapa hari. Apabila Tanci dan Pinghua bermain bersama, tema cerita yang umumnya dibawakan adalah cerita romansa tradisional. Para pendongeng duduk di meja tetapi mereka pada waktu tertentu juga bisa bergerak terutama saat memerankan karakter dalam narasi. Alat peraga panggung yang biasa digunakan yaitu kipas lipat yang berfungsi untuk memeragakan atau melambangkan sesuatu.

    Dimana tempat terbaik untuk menikmati Pingtan?

    Suzhou Pingtan Museum 苏州评弹博物馆

    Jam buka: 09:00 a.m. – 5:00 p.m.

    Tiket masuk: 5 yuan/orang

     

    Guangyu Pingtan Society 光裕书厅

    Jam buka: 1:30 p.m. – 3:30 p.m.

    Tiket masuk: 4 yuan/orang (waktu siang hari)

     

  • Eks Kantor “Handelsvereeniging Amsterdam” (HVA), Ini Wajah Baru Gedung PTPN XI dan Bunker-nya

    Surabaya Heritage Track (SHT) House of Sampoerna siap melaju ke dua rute pagi itu (03/04/2019). Dikarenakan tanggal merah, agenda tema tour ke radio tua Surabaya dibatalkan karena tutup. Sayang sekali memang, hari libur karena tanggal merah peringatan Isra Mi’raj yang sudah dimanfaatkan pengunjung untuk ikut visit kali ini mendadak batal karena dua rute itu ikut libur, Radio RRI dan Radio Bekupon Surabaya.

    dok./ficca

    Mengobati kekecewaan pengunjung, SHT pun kembali ke rute reguler. Sesi pukul 10.00-11.00 WIB berhenti di dua pemberhentian. First stop adalah Monumen Tugu Pahlawan. Namun, karena keterbatasan waktu, tour guide hanya menjelaskan area depan saja tanpa masuk ke dalam. Meskipun demikian, pengunjung tetap antusias mendengarkan kata demi kata yang disampaikan oleh Mas Aji dan tetap ber-selfie dengan latar belakang Monumen.

    dok./ficca

    Puas menikmati keindahan Monumen Tugu Pahlawan, sopir melajukan bus ke arah PTPN XI. Kantor Pusat PT Perkebunan Nusantara XI ini dulunya merupakan kantor Handelsvereeniging Amsterdam (HVA) atau Asosiasi Pedagang Amsterdam. HVA berdiri di Amsterdam pada tahun 1879, berdagang gula, kopi, dan singkong.

    dok./ficca

    Pembangunan gedung HVA di Surabaya dimulai pada tahun 1911 dan selesai dikerjakan pada tahun 1921. Peresmiannya sendiri baru dilakukan pada 18 April 1925. Sebelumnya di tempat itu berdiri Gedung Pertunjukkan Surabaya yang ketiga. Dengan total 167 pabrik gula di Jawa yang dikendalikan HVA, menghasilkan delapan juta ton gula per tahun.

    Halaman depan Gedung PTPN XI
    dok./ficca

    Keistimewaan Gedung PTPN XI

    Gedung dua lantai yang berdiri di atas lahan seluas 1.6 hektar ini memiliki bangunan utama seluas 2.016 meter persegi dan bangunan penunjang yang luasnya 4.126 meter persegi. Material didatangkan langsung dari Belanda dan Italia seperti kaca, besi, sampai pegangan tangga.

     

    “Bangunan ini juga mengusung konsep dilatasi. Tujuannya agar apabila ada gempa, salah satu bangunan saja yang runtuh, namun bangunan lainnya masih bisa diselamatkan.”ungkap Aji

    Menurut pengertiannya, dilatasi adalah sebuah sambungan atau pemisahan pada bangunan karena sesuatu hal memiliki sistem struktur berbeda. Hal ini dilakukan agar pada saat terjadinya beban (gaya vertikal dan horizontal, seperti pergeseran tanah atau gempa bumi) pada bangunan tidak menimbulkan keretakan atau putusnya sistem struktur bangunan tersebut.

    dok./ficca

    Meski gedung ini merupakan peninggalan zaman Belanda, namun tetap saja ada kesan baru yang ditampilkan agar jauh dari kata seram, tapi tetap dengan tidak mengubah total keseluruhan arsitekturnya. Misalnya, di lantai bawah gedung PTPN XI terdapat sebuah bunker. Dulunya bunker ini mungkin sempit dan pendek, namun kini sudah direnovasi sehingga tidak seberapa pengap dan sedikit terlepas dari kesan horor.

    Sejarah Gedung PTPN XI
    dok./ficca

     

    Bunker ini seolah menjadi saksi zaman kolonial Belanda. Disini, pengunjung bisa melihat deretan papan berjajar rapi di dinding bunker yang menceritakan sejarah gedung, pabrik gula, sosok Oei Tiong Ham, dsb.

    Oei Tiong Ham
    dok./ficca

    Melalui UU Gula, perusahaan-perusahaan swasta di Eropa menanamkan modalnya di Hindia Belanda (Indonesia). Pada awal abad ke-20, hampir semua karisidenan di Pulau Jawa memiliki pabrik gula. Karesidenan dengan pabrik gula paling banyak adalah karesidenan Surabaya yaitu mempunya 42 pabrik gula. Rinciannya adalah di Sidoarjo 20 pabrik gula, di Surabaya 10 pabrik gula, di Mojokerto 1 pabrik gula, di Jombang 11 pabrik gula.

    Dengan banyaknya pabrik gula waktu itu, Hindia Belanda menjadi eksportir gula terbesar nomor 2 di dunia setelah Kuba. Dari kalangan kerajaan di Jawa tercatat Raja Mangkunegaran IV mempunyai 2 (dua) pabrik gula yaitu Tasikmadu dan Colomadu di Surakarta.

    Industri gula telah mengantarkan Oei Tiong Ham seorang Tionghoa dari kota Semarang menjadi raja gula Indonesia dan merupakan orang terkaya di Hindia Belanda pada abad ke-19.

    dok./ficca

    Keluar dari bunker, peserta dibebaskan untuk melihat-lihat isi gedung, mulai dari lantai bawah atau ke lantai berikutnya. Kalau naik ke atas, pengunjung bisa menjumpai ruangan Direktur Utama dimana terdapat kursi dan meja jati asli sejak masa Belanda. Apabila diperhatikan dengan detil, ruangan ini juga dihiasi dengan relief menamam tebu, panen kopi, panen tebu sebagai gambaran dari aktivitas perkebunan masa Belanda.