Ramai, sudah pasti itu. Omah Jaman Now sore hingga malam ini seketika penuh dengan kumpulan millenials yang datang untuk menyaksikan acara Pilpres Selow. Menurut koordinator OJN, acara ini sejatinya dibuat karena permintaan audiens yang menginginkan adanya semacam talkshow di OJN, alhasil terselenggaralah acara tersebut. Meski harus berdesak-desakan menjadi satu karena keterbatasan ruang dan membludaknya peserta, namun tidak melemahkan semangat mereka yang hadir. Buktinya, mereka antusias untuk menunggu dua narasumber spesial yakni Nurhadi dan Uus. Acara ini juga dimeriahkan oleh penampilan band dari Alfian dkk.

Sesaat setelah MC memanggil namanya, Dildo atau Nurhadi-Aldo maju ke tengah panggung dengan didampingi oleh paspampresnya. Hal ini pun mengundang gelak tawa dari penonton yang hadir. Yup, Nurhadi sendiri meng-klaim bahwa dirinya adalah capres di dunia maya. Capres dan cawapres fiktif ini seolah menjadi alternatif yang ditawarkan warganet (netizen) yang bosan melihat panasnya kontestasi politik. Paslon fiktif nomor 10 ini bisa dibilang dapat memberikan ruang relaksasi bagi warganet yang terpapar konten keras politik. Tak hanya Dildo, namun juga ada komedian Uus dan Hasan sebagai dua narasumber lainnya.

Lantas, apa arti ‘selow’? Sebenarnya jawaban mereka tidak lepas dari gurauan, namun juga tetap serius. Cara ini bisa dibilang cukup efektif karena berdiskusi soal politik tidak selamanya harus tegang. “Selow itu berarti pelan namun pasti (PNP), santai namun serius (SNS).”kata Nurhadi

“Selow menurut gue nggak ada boikot antar satu sama lain, nge cap orang seenaknya,”ujar Uus

Menurut Uus, sebaiknya tidak melakukan judge ke seseorang misalnya wanita A memakai cadar namun di cap sebagai teroris atau pria B adalah pemabuk dan di cap sebagai orang jahat. Hal paling penting dalam hidup yakni berbuat baik dan hal baik bisa dimulai dari yang kecil atau mudah.

“Selow berarti nggak nge-gas, karena saat emosi sesesorang akan memiliki rasional yang menurun dan di saat tidak emosi berarti rasionalnya cenderung naik.” tutur Hasan

Lebih lanjut, Hasan juga berpendapat bahwa kebanyakan masyarakat kita cenderung mengaitkan hal satu dan hal lainnya yang tidak ada kaitannya. Contohnya, presiden A suka makan nasi di warung lantas ia adalah calon pemimpin yang tepat atau presiden B suka salim tiga kali dengan saingannya lalu ia dianggap sebagai kandidat yang pas untuk memimpin negara.

“Ada juga yang berfikir bahwa sosok pemimpin ideal adalah yang pintar orasi, dalam artian saat pidato tidak membaca teks namun sebagian lainnya berfikir pemimpin yang pidatonya baca teks mungkin dia adalah pribadi yang lebih berhati-hati dan mengacu pada data.” tambah Hasan

Singkatnya, inti dari acara ini yakni kita sebagai pemuda-pemudi bangsa disarankan untuk tidak golput di pesta demokrasi pilpres yang akan datang karena satu suara menentukan kemajuan bangsa. Selain itu, hindari adanya kubu-kubu tertentu dan tentunya lebih selow. Uus juga berpesan kalau kita sebaiknya berhenti untuk membenarkan atau menyalahkan. Saling menghargai dan gunakan hak pilih dengan bijak.