Cak Luhur, begitu ia akrab disapa. Nama Luhur Adi Prasetyo sendiri sudah cukup akrab di kalangan para fotografer pecinta street photography. Tema fotografi ini ternyata banyak diminati banyak orang karena lumayan mudah dilakukan. “Fotografi jalanan iku isok didefinisikan sebagai dokumentasi di ruang publik sing mengutamakan kejujuran,” ujar Luhur. Jenis-jenis fotografi jalanan juga banyak macamnya seperti jukstaposisi, similarity, surrealis, kontradiksi, ekspresi, shadow, siluet, refleksi, dan obstacle.

Instagram.com/@luhur_adi

Foto di atas adalah contoh jukstaposisi dimana menggabungkan beberapa objek dalam satu frame atau penempatan dua objek secara berdampingan. Dari sekian foto yang ia tampilkan saat menjadi salah satu pengisi workshop sore kemarin, berikut adalah foto paling berkesan menurut Luhur.

Instagram.com/@luhur_adi

“Foto iki tak jupuk lek nggak salah pas nang Stasiun Malang, nah waktu itu aku ndelok kaca sing pecah iki terus muncul ide moto, kebetulan onok mbak-mbak mulih kerjo sisan pas iku,” tuturnya dalam bahasa Suroboyoan

Foto ini ingin menyampaikan makna bahwa masyarakat modern cenderung mempunyai mobilitas sosial tinggi sehingga secara tidak langsung bisa membuat kepala seseorang tersebut ‘pecah’. Luhur juga menyebutkan sederet tokoh fotografer jalanan dunia yang menjadi referensinya seperti Henry Cartier, Alex Webb, Elliot Erwit, Bruce Gilden, dan Vivian Maier. Menurut Luhur, alasan ia memilih jenis fotografi ini karena murah dan bisa dilakukan dimana saja. Meski hasil jepretan Luhur juga terbilang ‘nyeleneh’, namun itu merupakan bentuk atau hasil bermain dari imajinasinya.

Beberapa tips yang ia rekomendasikan bagi Anda yang tertarik dengan street photography antara lain: selalu membawa kamera setidaknya kamera ponsel, memilih jalan kaki daripada naik kendaraan, dekati subjek untuk mendapatkan foto maksimal, lakukan observasi sebelum hunting, sabar untuk menunggu momen yang tepat, tetap senyum meski dimarahi, dan break the rules yang artinya mempunyai cara tersendiri atau inovatif dalam memfoto objek.

Lebih lanjut, Luhur juga menjelaskan bahwa street photography cukup berbeda dengan human interest. “Kalau human interest bisa diatur momennya. Contohnya foto ibu penjual lombok digambarkan sesuai dengan profesinya. Sedangkan fotografi jalanan tidak bisa diatur, subjeknya bisa manusia atau hewan.” jelasnya

Suka duka pun juga sudah Luhur lalui saat memfoto di jalanan. Ia juga bercerita soal pengalaman nggak enaknya saat memotret. Misalnya, saat itu ia sempat ‘digampar’ dengan kain karena memfoto dari jarak cukup dekat. Namun, ia tetap tersenyum dan tidak marah, justru mengucapkan maaf kepada beliau, dan tidak berhenti motret.

Uniknya, ia juga menuturkan kepada audiens kalau momen favoritnya untuk hunting adalah saat hujan. Tiap kali hujan turun, ia pergi untuk hunting.

(fas)

 

Lokasi: Bober Cafe & Ruang Komunitas Surabaya

Event: 1st Anniv Hunting Pasar Indonesia