Monthly Archives:January 2019

  • Hunting Pasar Indonesia Rayakan Hari Jadi ke-1 Tahun, Ini Keseruannya

    Kota Surabaya bukanlah kota pertama yang dijadikan first stop oleh Hunting Pasar. Sebelumnya, mereka telah mengadakan roadshow di Makassar dan selanjutnya akan menuju Jakarta dan Jogja. Jogja sendiri dipilih sebagai kota terakhir karena di kota inilah Hunting Pasar Indonesia pertama kalinya terbentuk.

    Gas People, begitulah mereka menyebut anggotanya. Menariknya, gas people yang datang hari itu (26/01/19) di Bober Cafe & Ruang Komunitas jumlahnya di luar ekspektasi. Antusias peserta di Surabaya cukup besar melebihi seat yang disediakan. Dalam 1st anniversary ini, @huntingpasar.id berkolaborasi dengan @lumixindonesia.

    Acara dibuka dengan sepatah katah dari beberapa pihak penting dari penyelenggara dan dipandu oleh MC. Bagi kalian yang belum tahu, Hunting Pasar merupakan komunitas penggiat foto dan videografi dengan objek utama yakni pasar tradisional. Ide awal berdirinya komunitas ini cukup unik. “Awal ki aku mek ngancani istri ke pasar, kebetulan bawa kamera, terus foto-foto.” Ujar Bagoes sang Founder

    Yup, berawal dari kesenangan Bagoes Kresnawan dengan pasar tradisional dan memotret, kegiatan yang dilakukan oleh pasangan suami istri di setiap akhir pekan ini mengantarkannya pada ide untuk membangun komunitas Hunting Pasar yang akhirnya ditetapkan pada tanggal 7 Januari 2018 oleh Bagoes Kresnawan (30) bersama istrinya Astri Wulandari (28) di Yogyakarta. Kini, komunitas ini menjelma menjadi wadah bagi para fotografer dan videografer untuk menyalurkan minatnya di bidang fotografi dan sudah tersebar di kira-kira 37 kota se-Indonesia.

    Pertanyaan yang banyak datang yakni “Mengapa Pasar?” Bagoes menuturkan bahwa pasar merupakan cerminan karakteristik suatu wilayah. Misalnya, daerah yang dekat dengan laut umumnya pasarnya menjual ikan. Kita juga bisa menemukan banyak scene unik di pasar dan memotret di pasar itu bukan hanya teknis melainkan disini adalah tempat bertemu manusia.

    “Memotret di pasar juga bisa melatih interaksi terhadap subjek yang kita foto dan yang terpenting bisa jajan.” celetuk Bagoes Kresnawan. Salah satu penggagas Hunting Pasar ini mengatakan kalau aktivitas yang biasa mereka lakukan di akhir pekan yaitu mengunjungi pasar untuk sarapan bersama dan melakukan hunting foto / video. “Tapi perlu diingat, kalau kita adalah tamu, dan sebagai tamu harus menghargai tuan rumah.” tambahnya

    Bagoes juga mengingatkan kepada siapapun yang akan hunting ke pasar untuk ber-etika yang baik. Contohnya, tidak memaksa atau menyuruh subjek melakukan pose tertentu atau tetap senyum apabila ditegur saat mungkin salah satu dari mereka tidak berkenan untuk difoto.

    Beberapa tips yang ia rekomendasikan untuk hunting di pasar antara lain: cari rol, jebakan cahaya. Refleksi, dan create scene. Figur yang menjadi panutannya seperti Eduardo Pavez dan Eric Kim. Ia pun juga membebaskan anggotanya untuk menggunakan kamera apapun, yang penting niat belajar dalam komunitas ini.

    Instagram.com/@huntingpasar.id

    Terakhir, harapan yang ia panjatkan yakni Hunting Pasar Indonesia akan lebih besar lagi kedepannya dan semakin rajin dalam memotret. “Saya berharap nantinya member dari komunitas ini akan semakin serius dalam berkarya dan aktif mengadakan pameran sebanyak-banyaknya.” Tuturnya

     

    Happy 1st Anniversary, Hunting Pasar Indonesia!

    Gas!

     

    (fas)

  • Pilpres Selow, Cara Sambut Pesta Demokrasi dengan ‘Nggak Nge-Gas’

    Ramai, sudah pasti itu. Omah Jaman Now sore hingga malam ini seketika penuh dengan kumpulan millenials yang datang untuk menyaksikan acara Pilpres Selow. Menurut koordinator OJN, acara ini sejatinya dibuat karena permintaan audiens yang menginginkan adanya semacam talkshow di OJN, alhasil terselenggaralah acara tersebut. Meski harus berdesak-desakan menjadi satu karena keterbatasan ruang dan membludaknya peserta, namun tidak melemahkan semangat mereka yang hadir. Buktinya, mereka antusias untuk menunggu dua narasumber spesial yakni Nurhadi dan Uus. Acara ini juga dimeriahkan oleh penampilan band dari Alfian dkk.

    Sesaat setelah MC memanggil namanya, Dildo atau Nurhadi-Aldo maju ke tengah panggung dengan didampingi oleh paspampresnya. Hal ini pun mengundang gelak tawa dari penonton yang hadir. Yup, Nurhadi sendiri meng-klaim bahwa dirinya adalah capres di dunia maya. Capres dan cawapres fiktif ini seolah menjadi alternatif yang ditawarkan warganet (netizen) yang bosan melihat panasnya kontestasi politik. Paslon fiktif nomor 10 ini bisa dibilang dapat memberikan ruang relaksasi bagi warganet yang terpapar konten keras politik. Tak hanya Dildo, namun juga ada komedian Uus dan Hasan sebagai dua narasumber lainnya.

    Lantas, apa arti ‘selow’? Sebenarnya jawaban mereka tidak lepas dari gurauan, namun juga tetap serius. Cara ini bisa dibilang cukup efektif karena berdiskusi soal politik tidak selamanya harus tegang. “Selow itu berarti pelan namun pasti (PNP), santai namun serius (SNS).”kata Nurhadi

    “Selow menurut gue nggak ada boikot antar satu sama lain, nge cap orang seenaknya,”ujar Uus

    Menurut Uus, sebaiknya tidak melakukan judge ke seseorang misalnya wanita A memakai cadar namun di cap sebagai teroris atau pria B adalah pemabuk dan di cap sebagai orang jahat. Hal paling penting dalam hidup yakni berbuat baik dan hal baik bisa dimulai dari yang kecil atau mudah.

    “Selow berarti nggak nge-gas, karena saat emosi sesesorang akan memiliki rasional yang menurun dan di saat tidak emosi berarti rasionalnya cenderung naik.” tutur Hasan

    Lebih lanjut, Hasan juga berpendapat bahwa kebanyakan masyarakat kita cenderung mengaitkan hal satu dan hal lainnya yang tidak ada kaitannya. Contohnya, presiden A suka makan nasi di warung lantas ia adalah calon pemimpin yang tepat atau presiden B suka salim tiga kali dengan saingannya lalu ia dianggap sebagai kandidat yang pas untuk memimpin negara.

    “Ada juga yang berfikir bahwa sosok pemimpin ideal adalah yang pintar orasi, dalam artian saat pidato tidak membaca teks namun sebagian lainnya berfikir pemimpin yang pidatonya baca teks mungkin dia adalah pribadi yang lebih berhati-hati dan mengacu pada data.” tambah Hasan

    Singkatnya, inti dari acara ini yakni kita sebagai pemuda-pemudi bangsa disarankan untuk tidak golput di pesta demokrasi pilpres yang akan datang karena satu suara menentukan kemajuan bangsa. Selain itu, hindari adanya kubu-kubu tertentu dan tentunya lebih selow. Uus juga berpesan kalau kita sebaiknya berhenti untuk membenarkan atau menyalahkan. Saling menghargai dan gunakan hak pilih dengan bijak.

  • Meski Terbilang ‘Nyeleneh’, Foto Street Photography dari Luhur Sarat akan Makna

    Cak Luhur, begitu ia akrab disapa. Nama Luhur Adi Prasetyo sendiri sudah cukup akrab di kalangan para fotografer pecinta street photography. Tema fotografi ini ternyata banyak diminati banyak orang karena lumayan mudah dilakukan. “Fotografi jalanan iku isok didefinisikan sebagai dokumentasi di ruang publik sing mengutamakan kejujuran,” ujar Luhur. Jenis-jenis fotografi jalanan juga banyak macamnya seperti jukstaposisi, similarity, surrealis, kontradiksi, ekspresi, shadow, siluet, refleksi, dan obstacle.

    Instagram.com/@luhur_adi

    Foto di atas adalah contoh jukstaposisi dimana menggabungkan beberapa objek dalam satu frame atau penempatan dua objek secara berdampingan. Dari sekian foto yang ia tampilkan saat menjadi salah satu pengisi workshop sore kemarin, berikut adalah foto paling berkesan menurut Luhur.

    Instagram.com/@luhur_adi

    “Foto iki tak jupuk lek nggak salah pas nang Stasiun Malang, nah waktu itu aku ndelok kaca sing pecah iki terus muncul ide moto, kebetulan onok mbak-mbak mulih kerjo sisan pas iku,” tuturnya dalam bahasa Suroboyoan

    Foto ini ingin menyampaikan makna bahwa masyarakat modern cenderung mempunyai mobilitas sosial tinggi sehingga secara tidak langsung bisa membuat kepala seseorang tersebut ‘pecah’. Luhur juga menyebutkan sederet tokoh fotografer jalanan dunia yang menjadi referensinya seperti Henry Cartier, Alex Webb, Elliot Erwit, Bruce Gilden, dan Vivian Maier. Menurut Luhur, alasan ia memilih jenis fotografi ini karena murah dan bisa dilakukan dimana saja. Meski hasil jepretan Luhur juga terbilang ‘nyeleneh’, namun itu merupakan bentuk atau hasil bermain dari imajinasinya.

    Beberapa tips yang ia rekomendasikan bagi Anda yang tertarik dengan street photography antara lain: selalu membawa kamera setidaknya kamera ponsel, memilih jalan kaki daripada naik kendaraan, dekati subjek untuk mendapatkan foto maksimal, lakukan observasi sebelum hunting, sabar untuk menunggu momen yang tepat, tetap senyum meski dimarahi, dan break the rules yang artinya mempunyai cara tersendiri atau inovatif dalam memfoto objek.

    Lebih lanjut, Luhur juga menjelaskan bahwa street photography cukup berbeda dengan human interest. “Kalau human interest bisa diatur momennya. Contohnya foto ibu penjual lombok digambarkan sesuai dengan profesinya. Sedangkan fotografi jalanan tidak bisa diatur, subjeknya bisa manusia atau hewan.” jelasnya

    Suka duka pun juga sudah Luhur lalui saat memfoto di jalanan. Ia juga bercerita soal pengalaman nggak enaknya saat memotret. Misalnya, saat itu ia sempat ‘digampar’ dengan kain karena memfoto dari jarak cukup dekat. Namun, ia tetap tersenyum dan tidak marah, justru mengucapkan maaf kepada beliau, dan tidak berhenti motret.

    Uniknya, ia juga menuturkan kepada audiens kalau momen favoritnya untuk hunting adalah saat hujan. Tiap kali hujan turun, ia pergi untuk hunting.

    (fas)

     

    Lokasi: Bober Cafe & Ruang Komunitas Surabaya

    Event: 1st Anniv Hunting Pasar Indonesia

  • Iman Usman Tawarkan Beasiswa Penuh dan Mentorship di Ultahnya ke-27

    Post Image

    Dedikasi Iman Usman terhadap pendidikan di Indonesia memang luar biasa. Patut diapresiasi kiranya atas kontribusi Co-Founder & CPO dari Ruangguru ini dalam memajukan dunia pendidikan Indonesia. Ruangguru sudah menjadi salah satu bukti nyata atas kerja keras Iman selama ini bersama rekannya Belva.

    Melalui Ruangguru, secara tidak langsung Iman juga membuka peluang pekerjaan dan mengumpulkan anak muda dari berbagai penjuru. Kini, ia datang dengan memberi kabar baik untuk para insan yang haus akan ilmu. Yup, sejatinya ini adalah berita gembira yang ditunggu oleh scholarship hunter.

    Instagram.com/@imanusman

    Momen pertambahan usianya yang ke-27 dijadikan Iman untuk berbagi. “Tanggal 21 Desember 2018 ini gue berulang tahun ke-27! Di usia ke-27 ini gue bersyukur banget dengan segala hal yang ada di hidup gue saat ini. Gue sadar betul kalo gue gak bakal sampai di sini kalo bukan karena orang-orang baik dalam hidup gue.” tulis Iman

    Dikutip dari halaman web pribadinya, beasiswa ini merupakan bentuk rasa terimakasihnya terhadap orang-orang yang berarti dalam hidupnya. Ia menyadari betul bahwa ia bisa sampai di tahap sekarang ini karena mereka. Oleh karena itu, sebisa mungkin ia berusaha untuk pay it forward di setiap hal yang ia kerjakan dan yang selama ini sudah ia terima.

    Melalui platform Kitabisa.com, ia mengumpulkan donasi baik pribadi maupun donatur untuk mewujudkan beasiswa ini. Detil persyaratan dan keterangan beasiswa bisa dibaca di halaman web www.imanusman.com. Uniknya, tidak hanya beasiswa namun juga ada mentorship program. Iman juga berpesan kepada para kandidat untuk memilih tawaran yang tepat. Pilihlah beasiswa jika memang membutuhkannya dan begitu pula dengan program mentorship.

    Perlu dicatat bahwa beasiswa ini bukan merupakan bentuk giveaway, sehingga calon penerima beasiswa nantinya harus berkomitmen dengan sungguh-sungguh. “I am taking this process very seriously, and I hope you do too. Bikin aplikasinya musti niatjangan asal.” tulis Iman

    Hari ini adalah hari terakhir pendaftaran. Semoga beruntung.

  • Menurut Inijie, Jadi Food Photographer Harus Passion di 2 Hal Ini

    Meski hujan mengguyur, tidak mengurungkan niat para anak muda ini untuk datang ke pameran pendidikan yang digelar oleh Vista Education. Selain pameran pendidikan, ada pula beberapa workshop yang bisa diikuti. Salah satunya workshop “Food Photography” bersama Inijie. Acara ini terbuka untuk umum dan tidak dipungut biaya.

    Nama Inijie sendiri seperti sudah tidak asing kita dengar, terutama di kalangan para food photographer. Latar belakang pendidikannya dengan karirnya saat ini bisa dibilang 180 derajat berbeda, berangkat dari IT yang kemudian beralih ke food photography. Fokus objek yang ia pilih adalah food, meski ia terkadang juga menerima tawaran sebagai fotografer di acara pernikahan atau ulang tahun. Namun, concern utamanya tetap dalam bidang kuliner. Saat ditanya apakah perlu untuk menempuh pendidikan khusus di bidang food photography, maka ia menjawab memang itu perlu. Ia sadar bahwa hal tersebut sebenarnya juga butuh dimiliki, bahkan jika ia bisa memutar waktu, ia berkeinginan untuk melakukan hal tersebut.

    Menurut Inijie, passion adalah kunci utama dari karirnya. Terlebih jika kita memutuskan untuk menjadi food photographer. Kuliner dan fotografi, you have to be passionate in these two things. Sebenarnya pekerjaan apapun itu, kalau memang kita passion disana tentu akan lebih mudah menjalaninya.

    “Kalau nggak passion di dua hal itu, memang cukup sulit buat jadi food photographer,” jelas Inijie

    Hal ini karena memfoto makanan yang sesuai dan bisa menarik perhatian orang itu sulit. “Teman saya ada yang kerja untuk foto salah satu menu restoran cepat saji dan itu bisa memakan waktu cukup lama, bisa dari pagi hingga pagi lagi,” tambahnya

    Mengapa demikian? Tentu saja karena pelanggan atau para user media sosial hanya akan melihat foto kita sekian detik dan itu adalah sebuah tugas yang cukup berat agar mereka tertarik atau ngiler dengan makanan yang kita foto. Tips foto yang ia berikan antara lain: pencahayaan, angle, dan kualitas foto. “Katakanlah, pizza dan burger adalah dua objek yang punya bentuk berbeda. Kalau pizza ngambil fotonya dari atas, kalau burger dari samping. Pintar-pintar mencari angle yang pas,” ujarnya

    Ia juga menjelaskan kalau pencahayaan itu penting. Misalnya, saat di cafe, kita harus pintar memilih spot yang kiranya memiliki pencahayaan yang baik. Kemudian, kita juga harus berfokus pada kualitas foto. “Kalau fotonya sudah bagus, nggak perlu diedit banyak,” lanjut Inijie

    Well, perjalanan Inijie di bidang ini awalnya juga tidak semulus yang dibayangkan. Pernah suatu hari ia datang di suatu depot untuk memfoto menu bebek goreng suwir namun justru ia ditegur oleh pemilik depot. “Iya, jadi dulu di Surabaya ada depot yang baru buka dan menunya menarik banget yaitu Bebek Goreng Suwir, biasanya kan ya paling bebek goreng aja, pas dateng buat moto tapi eh tiba-tiba ditegur sama si owner, bukan sekali tapi dua kali. Kata si Bapak ngapain makanan difoto-foto dan harusnya izin dulu,” tutur Inijie kepada audiens

    Sebulan selang peristiwa itu, Inijie sempat terpukul dan vakum dari menulis blog-nya. Namun, ia tak lantas larut dalam kesedihannya karena pembaca blog setianya sudah rindu akan artikel yang ia tulis.

    Pria bernama lengkap Jiewa Vieri ini berpesan kepada audiens bahwa untuk peralatan atau media yang digunakan untuk memotret itu bisa menyusul, semua melalui proses, tidak harus langsung membeli lengkap semuanya terlebih dahulu. Ia pun awalnya juga memulai karirnya dengan bermodalkan handphone. Bahkan, hingga kini ia juga lebih sering menggunakan handphone untuk memfoto makanan.

    (fas)