Monthly Archives:December 2018

  • Bangga, Tugu Parasamya Purnakarya Nugraha Diresmikan

    Tugu Titik Nol Jawa Timur mahakarya dari sang maestro Nyoman Nuarta ini malam tadi (Jumat, 28 Desember 2018) diresmikan oleh Pakde Karwo. Nama Nyoman Nuarta sudah tak asing lagi karena berbagai prestasi dalam bidang seni sudah ia torehkan. Ia merupakan salah satu seniman Indonesia yang dikenal dengan mahakarya Patung Garuda Wisnu Kencana (Badung, Bali), Monumen Jalesveva Jayamahe (Surabaya), serta Monumen Proklamasi Indonesia (Jakarta), dan kini ia juga berhasil membuat mahakarya Tugu Titik Nol Jawa Timur yang diberi nama Tugu Parasamya Purnakarya Nugraha.

    Sejumlah tokoh penting di Jawa Timur seperti Kapolda Jatim, para Konsulat Jenderal dari negara sahabat, Sekdaprov Jatim, Wakil Ketua DPRD Jatim, Pangdam V/Brawijaya, dan lainnya juga turut hadir dalam acara peresmian yang berlokasi di Gedung Kantor Gubernur Provinsi Jawa Timur, Jl. Pahlawan No.110, Surabaya.

    Uniknya, bukan hanya peresmian Tugu saja namun juga acara dikemas dalam bentuk Projection Mapping hasil kolaborasi dengan @lzyvisual. Dalam video mapping tersebut merepresentasikan Tugu yang diresmikan, terdapat karakter reog, karapan sapi, tari remo yang menggambarkan budaya dari Jawa Timur. Seperti kita tahu bahwa Reog adalah salah satu budaya daerah di Indonesia yang masih sangat kental dengan hal-hal yang berbau mistik dan ilmu kebatinan yang kuat. Konon, Jawa Timur bagian barat-laut dan Ponorogo dianggap sebagai kota asal Reog yang sebenarnya. Gerbang kota Ponorogo ini dihiasi oleh sosok warok dan gemblak, dua sosok yang ikut tampil pada saat reog dipertunjukkan.

    Tidak hanya itu, dalam animasi di video mapping juga ditampilkan karakter karapan sapi yang merupakan istilah untuk menyebut perlombaan pacuan sapi yang berasal dari Pulau Madura, Jawa Timur. Pada perlombaan ini, sepasang sapi yang menarik semacam kereta dari kayu (tempat joki berdiri dan mengendalikan pasangan sapi tersebut) dipacu dalam lomba adu cepat melawan pasangan-pasangan sapi lain. Trek pacuan tersebut biasanya sekitar 100 meter dan lomba pacuan dapat berlangsung sekitar sepuluh detik sampai satu menit.

    Lebih dalam lagi, tari Remo juga turut dipresentasikan dalam video. Tari yang berasal dari Kabupaten Jombang, Jawa Timur, tepatnya dari kecamatan Diwek Di desa Ceweng ini kala itu diciptakan oleh orang yang berprofesi sebagai penari jalanan. Bisa dibilang memang banyak dijumpai profesi tersebut di Jombang. Kini, tarian ini pada akhirnya merupakan tarian yang digunakan sebagai pengantar tarian ludruk. Namun, pada awal pertengahannya, tarian ini sering ditarikan secara terpisah sebagai sambutan kepulangan atas tamu kedaerahan, ditarikan dalam upacara-upacara kenegaraan, maupun dalam festival kesenian daerah.

    Dimulai sekitar pukul 19.00 WIB dan berakhir kira-kira sebelum pukul 21.00 WIB ini bisa menjadi acara yang bisa dinikmati oleh warga Surabaya. Meskipun warga yang hadir terbilang sedikit dan lebih banyak dihadiri tamu undangan, namun acara ini bisa dikatakan sukses menuai pujian dari masyarakat. Warga Jawa Timur terutama yang berada di kota Surabaya dan sekitarnya patut berbangga memiliki Tugu Parasamya Purnakarya Nugraha karena ini merupakan bentuk penghargaan kepada institusi pemerintah yang selama tiga tahun berturut-turut berhasil menunjukkan karya tertinggi pelaksanaan pembangunan dalam rangka peningkatan kesejahteraan masyarakat. Ini juga ketiga kalinya Jawa Timur mendapatkan penghargaan Parasamya Purnakarya Nugraha yakni tahun 1974, 2014, 2017.