Momen kemenangan Idul Fitri disambut penuh kebahagiaan dan sukacita oleh para umat muslim. Setelah kurang lebih tiga puluh hari berpuasa, umat muslim akan menyambut momen spesial Idul Fitri.

Hari raya Idul Fitri 1439 Hijriah tahun ini jatuh pada hari Jumat, 15 Juni 2018. Momen ini merupakan momen dimana setiap individu diharapkan kembali dari nol, maksudnya adalah memulai kembali dari nol, kembali suci atau fitri.

Selain itu, banyak orang memanfaatkan momen lebaran ini untuk berkumpul dengan keluarga tercinta. Jumlah hari libur yang cukup panjang merupakan waktu yang tepat untuk mudik ke kampung halaman, bersilaturahmi dengan sanak saudara, dan saling bermaaf-maafan.

Tradisi Mudik ke Kampung Halaman

Mudik di momen lebaran seolah telah menjadi tradisi setiap hari raya Idul Fitri datang. Baik yang memiliki kampung halaman maupun tidak, tetap bisa merayakan momen lebaran dengan versinya sendiri. Dari jauh-jauh hari, tiap orang sudah sibuk sendiri dengan rencananya masing-masing. Mulai dari melakukan packing barang, berbelanja oleh-oleh, menyiapkan uang THR, dsb.

Suguhan Khas dan Istimewa di Momen Lebaran

Selepas menunaikan sholat Ied, Anda akan berkumpul dengan keluarga Anda untuk menikmati kudapan atau suguhan khas dan istimewa di momen lebaran. Menu yang khas dijumpai yakni opor ayam dan ketupat. Namun, menu-menu ini sebetulnya tergantung selera masing-masing orang. Terlepas dari menu apapun itu, hal yang paling penting adalah sesi makan dan minum bersama dengan keluarga besar.

Jajanan Legendaris Wonosobo

Masih dalam balutan suasana mudik lebaran, kali ini kita akan berkunjung ke Dusun Kleyang Jurang, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah. Mengusung #wonosobopunya, Anda disarankan untuk mencoba jajanan legendaris khas Wonosobo yang bernama tempe kemul dan geblik. Kedua makanan ini hanya akan Anda temui di Wonosobo. Mungkin bisa juga ditemukan di daerah sekitar Jawa Tengah namun rasanya tentu akan berbeda. Kedua makanan tersebut khas Wonosobo selain Mie Ongklok dan Carica yang biasanya dibuat oleh-oleh.

Tempe kemul dan geblik memiliki citarasa yang khas dan berbeda. Bahan baku utama yang digunakan yakni pati basah atau tepung tapioka. Untuk membuat tempe kemul sendiri kemudian ditambahkan dengan gandum, kucai, bumbu-bumbu dapur, dan uniknya bahan baku tempe dibuat sendiri oleh pembuatnya. Untuk geblik sendiri ditambahkan dengan kelapa parut dan bumbu-bumbu dapur.

Salah satu penjual tempe kemul yang terkenal di desa Kleyang Jurang, Wonosobo ini adalah Simbah Yauddin. Konon katanya beliau sudah berjualan hingga bertahun-tahun lamanya dan telah menggantikan pemilik rumah sebelumnya yang kebetulan juga merupakan penjual tempe kemul. Sebutan akrab untuk rumah tersebut yakni “Rumah Tempe Kemul dan Geblik”.

Anda perlu mencoba jajanan khas ini saat berkunjung ke Wonosobo. Alat-alat untuk membuatnya pun masih terbilang tradisional karena menggunakan api kayu. Hal luar biasa yang dapat dipelajari dari Simbah Yauddin yakni beliau sangat telaten dalam membuat tempe kemul dan geblik. Beliau sampai mengorbankan bentuk tubuhnya menjadi sedikit “bungkuk” demi totalitas berjualan.

Selain tempe kemul dan geblik, beliau juga menjajakan pisang goreng dan tahu susur. Beliau tidak pernah menjual dagangannya keliling. Pelanggan tetap lah justru yang berdatangan dan rela mengantri demi mencicipi makanan khas Wonosobo ini. Berkat jualan tempe kemul dan geblik, beliau mendapatkan rezeki yang cukup melimpah. Beliau juga tidak segan untuk memberikan “imbuh” tiap kali pelanggan membeli dagangannya.

Rumah ini buka tiap pagi (lebar shubuh) dan menjelang maghrib karena jajanan ini paling cocok dinikmati di hawa dingin dan disantap dalam keadaan masih panas. Beliau juga menerima pesanan untuk pengajian atau acara-acara serupa.