Monthly Archives:March 2018

  • YOT Surabaya x Bonek Edukasi: MengKoberkan Semangat Peduli Lingkungan

    Post Image

    Setelah sempat vakum beberapa saat, kali ini Divisi Green dari YOT Surabaya kembali hadir untuk mengadakan aksi peduli lingkungan. Salah satu program kerja yang pernah kami jalankan yakni Kantong Berjalan di Taman Bungkul pada batch sebelumnya dimana kegiatan ini mendulang antusias masyarakat yang cukup besar. Mengingat antusiasme yang cukup besar inilah yang memotivasi kami untuk mengadakan kegiatan Kober ini kembali.

    Sekilas Tentang Kantong Berjalan

    Sekadar informasi, Kantong Berjalan ini merupakan aksi memungut sampah dan nantinya akan dikumpulkan pada trash bag yang sudah disediakan. Seperti kita tahu bahwa kesadaran masyarakat terhadap lingkungan yang bersih mungkin masih cukup minim, salah satunya di kota Pahlawan Surabaya. Kota ini sebenarnya merupakan kota yang bersih apabila masyarakatnya sejak dini memahami arti penting menjaga lingkungan sekitar.

    Lebih lanjut, untuk tahun ini aksi Kantong Berjalan merupakan suatu rangkaian acara yang dimulai dari campaign melalui media sosial dengan tema “Diet Sampah Plastik”. Acara ini akan diadakan pada hari Minggu, 01 April 2018. Nantinya dilanjutkan dengan main event yang berlokasi di CFD Taman Bungkul Surabaya untuk melakukan aksi bersama dengan membuang sampah pada tempatnya yang dikumpulkan dalam trash bag.

    Main Goal

    Bisa dikatakan Surabaya adalah kota yang memiliki banyak cerita dan lebih maju daripada kota-kota lain pada era kolonial. Hal ini karena dinamika yang terjadi di Surabaya sebagai kota pelabuhan, kota dagang, dan kota industri pada abad ke-19 sehingga membuat kota ini begitu maju, bahkan sebelum pemerintah kolonial Belanda datang kesini. Ditambah lagi sudah ada banyak taman kota yang menghiasi kota yang terkenal akan rujak cingurnya ini.

    Mengusung tema “Pemuda Surabaya Berkoberkan Semangat Peduli Lingkungan”, kami akan berkolaborasi dengan Bonek Edukasi Surabaya untuk menanamkan awareness kepada warga Suroboyo dalam hal menjaga kebersihan lingkungan dan tidak membuang sampah sembarangan. Masalah sampah sendiri merupakan masalah lama yang belum tertuntaskan hingga saat ini. Budaya sampah sembarangan menjadi salah satu penyebab banyaknya masalah lingkungan, salah satunya banjir. Sering kali banjir ini terjadi di beberapa titik kota Surabaya.

    Selain itu, secara nyata YOT Surabaya ingin memberikan aksi dan tindakan yang real terhadap masalah lingkungan dalam hal ini membersihkan sampah yang berserakan di sekitar CFD Taman Bungkul. Harapannya kami dapat menyebarkan semangat dan nilai-nilai positif kepada warga Suroboyo.

    Image courtesy from Bonek Edukasi Surabaya
     

    Mengapa Berkolaborasi dengan Bonek Edukasi Surabaya?

    Alasan kami menggandeng Bonek Surabaya karena apabila kita berbicara tentang Surabaya, tentunya tidak bisa lepas dari Persebaya Surabaya. Dilansir dari salah satu sumber di Internet (detik.com), SIVB (Soerabaiasche Indische Veotbal Bond) 1927 dikatakan sebagai cikal bakal Persebaya, dimana menjadi klub yang didirikan oleh orang-orang bumiputera di Surabaya untuk lebih bisa mengembangkan permainan sepak bola.

    Persebaya diakui sebagai dua entitas yang saling berkaitan antara SVB (Soerabaiasche Voetbal Bond) yang didirikan di tahun 1910-an dan SIVB. Diperkirakan usia dari Persebaya sudah lebih dari satu abad.

    Dari usia tersebut, tentu saja Persebaya tidak bisa dihilangkan begitu saja di dalam sejarah Surabaya dan di memori serta benak masyarakat. Persebaya bukan hanya warisan kota yang harus dicintai dan dilestarikan, tapi bagian dari sejarah Surabaya itu sendiri.

    Bagi yang mungkin belum tahu, istilah Bonek muncul dari mulut ke mulut karena para pendukung Persebaya dari masyarakat bawah sering nekat melakukan tret tet tet dengan dana yang sangat minim bahkan untuk membeli tiket transportasi umum pun tidak mampu.

    Namun, sering kali para bonek tersebut mendapatkan stigma negatif dari masyarakat tidak hanya dari Surabaya namun juga dari luar Surabaya. Kerap kali mendapatkan stereotype yang kurang baik misalnya nekat, seram, nakal, dsb. Nah, melalui event kali ini, selain bermaksud untuk menjaga lingkungan, kami juga ingin mencoba mengubah pandangan masyarakat terhadap Bonek Surabaya bahwa dimana Bonek Edukasi Surabaya juga merupakan sosok yang peduli dengan lingkungan terutama lingkungan di Surabaya.

    Selain Aksi Pungut Sampah, Ada Pula Cangruk Session

    Untuk memeriahkan acara, YOT Surabaya juga akan menggelar agenda sharing session namun disini kami menyebutkan sesi cangkruk bersama. Nantinya akan ada beberapa narasumber yang akan mengisi acara tersebut. Menghadirkan tiga narasumber spesial yakni Cak Nur Setiawan selaku Koordinator dari Komunitas Bonek Edukasi Surabaya, Sandi Setiawan yang merupakan founder Love Suroboyo, dan Adriani Valianda Tobing dari Earth Hour Surabaya.

  • Mengharumkan Nama Bangsa dengan Bermain Biola di Negeri Gingseng, Korea

    Cantik dan berbakat, dua kata inilah yang rasanya sepadan untuk menggambarkan sosok Kezia Amelia. Dara cantik satu ini berhasil menarik perhatian masyarakat Indonesia. Ia merupakan pebiola cantik nan berbakat yang berasal dari Indonesia.

    Bernama lengkap Kezia Amelia Angkadjaja, ia adalah seorang pebiola cantik yang telah mengharumkan nama bangsa dengan bermain biola di negeri gingseng, Korea. Namanya mulai banyak diperbincangkan netizen lewat akun media sosial Instagram.

    Paket Lengkap, Sudah Cantik Berbakat Pula

    Kepiawaiannya dalam menggesek biola membuat berjuta pasang mata terpukau akan dirinya. Tidak hanya itu, ia juga memilik paras yang cantik nan menawan dan kedua hal itulah yang memang menjadi daya tarik luar biasa dari sosok yang akrab disapa Kezia ini. Tetapi jangan salah, permainan biola Kezia juga tak kalah cantik dengan parasnya.

    Salah satu videonya yang banyak ditonton oleh warganet di akun Youtube-nya adalah pada saat ia memainkan biola di negeri yang terkenal akan drama Koreanya ini. Usut punya usut, ini merupakan pengalaman pertama kalinya bermain biola di negeri orang, sempat terbesit malu pada benaknya karena mungkin dari nuansa tempat, orang, dan budayanya juga yang berbeda.

    Pemilihan Lokasi Shooting dan Lagu Saat Kezia di Korea Selatan

    Di dalam video berdurasi sekitar empat menit tersebut, ia terlihat cantik dengan mengenakan Hanbok, menawan dengan kepiawaiannya memainkan lagu Back In Time (OST “The Moon that Embraces The Sun”). Ia menuliskan tulisan berikut pada description box di akun Youtube-miliknya:

    2017 is almost over! Before this year passes, I want to share this violin cover with you. I recorded this track sometime ago, and decided to make the video on my trip to Korea this year. It was freezing when we shot this (a week after shooting this snow started falling in Seoul), but I think it’s worth it.”

    Image courtesy from Youtube (Kezia Amelia)

    Kezia sendiri juga memilih Gyeongbok Palace sebagai lokasi ia bermain biola tersebut yang dimana istana itu merupakan lokasi shooting dari drama Korea berjudul The Moon That Embraces The Sun. Permainan biolanya tersebut sontak menuai berbagai pujian dari warganet dan mendorong mereka untuk men-subscribe serta memberikan Like untuk videonya.

    Bahkan, ada salah satu komentar dari sekian banyak komentar yang dituliskan dari kolom komentar menyebutkan bahwa Kezia berhasil menyihir para viewers-nya dengan memainkan lagu favorit mereka dari drama favorit pula. Segalanya yang terdapat di video itu bisa membius penontonnya dalam sekejap untuk takjub dan bisa memutar video Kezia hingga berulang kali.

    Lahir Bukan Dari Orang Tua Pemusik atau Musisi

    Kezia mulai menyukai biola sejak ia masih duduk dibangku SMA. Kecintaannya terhadap alat musik tak khayal melatar belakangi keinginannya mempelajari biola. Sebelumnya ia memang sudah menjadi seorang pemain piano (pianis) yang cukup berbakat.

    Semenjak ia menyukai alat musik biola, ia langsung memutuskan untuk mengikuti les biola dan memutuskan untuk menjadi seorang violinis. Dara cantik kelahiran 5 Juni 1990 yang kini tengah genap berusia 26 tahun ini ternyata juga berprofesi sebagai seorang dosen di Universitas Pelita Harapan (UPH) Surabaya. Kezia dulunya juga merupakan alumni disana. Kedua orang tuanya sendiri bukan berlatar belakang sebagai seorang pemusik atau musisi.

    Setahun belakangan ini Kezia mengaku mulai lebih serius untuk mendalami karirnya sebagai violinis dengan mulai gencar bermain secara solo. Ia kerap mengcover lagu-lagu yang sudah terlebih dahulu booming, baik lagu-lagu barat maupun lagu asal Indonesia. Video-video permainan biolanya sudah banyak yang ia upload di akun sosial media. Beberapa video yang telah ia upload di akun sosial YouTube bahkan telah disaksikan ratusan ribu kali, mendapat ribuan like, dan puluhan ribu subscriber. (dilansir dari salah satu sumber di Internet)

  • Mengenal Lebih Dekat Sosok Ariana Feygin “Junior Masterchef US” Asal Minnesota

    Sebagian besar orang tentu familiar dengan salah satu program televisi Masterchef. Program televisi yang menghadirkan tema kompetisi memasak bagi para chef rumahan untuk berkembang menjadi profesional. Ajang pencarian bakat memasak ini cukup populer di berbagai negara salah satunya di Amerika.

    Tidak hanya ditujukan bagi usia dewasa namun juga diperuntukkan bagi anak-anak yang memiliki bakat atau passion lebih di dunia memasak. Program ini dinamakan dengan Junior Masterchef US dan rutin digelar tiap season-nya.

    Salah satu yang menarik perhatian adalah sosok chef cilik bernama Ariana Feygin, dara cantik asal Minnesota. Ia bukan sekadar koki biasa, di usia 12 tahunnya sekarang ini, ia sudah mulai bersaing untuk kompetisi memasak. “Saya mulai memasak ketika saya baru berusia empat atau lima tahun,” ujar Feygin.

    Perjalanannya untuk bersaing di acara TV “Junior Masterchef US” dimulai ketika ia menyerahkan rekaman audisi tentang dirinya saat menyiapkan roasted canard à l’orange – bebek panggang dengan saus jeruk anggur putih dan video latar belakang atau sejarah ia dalam dunia memasak.

    Program Junior Masterchef US Season 6 ini tayang setiap hari Jumat pukul 7 CT di Fox Life. Bagi Anda yang memiliki TV kabel di rumah bisa menikmati acara ini bersama keluarga atau menyaksikannya di Youtube. Ada hal menarik lainnya karena kehadiran para dewan juri yang namanya sudah melambung di kancah Internasional.

    Menghadirkan tiga juri spesial yakni Gordon Ramsay, Christina Tosi, dan Joe Bastianich. Siapapun pasti mengenal Gordon Ramsay sebagai sosok chef yang hebat namun memiliki kepribadian menyebalkan.

    Sebagai juri dalam acara pencarian bakat memasak yang populer seperti Hell’s Kitchen dan Masterchef US, Ramsay tidak segan-segan membuang masakan kontestan jika dinilainya tidak enak. Ia juga kerap memborbardir kontestan dengan kata-kata makian jika mereka berperilaku tidak sesuai keinginannya.

    Namun, sifat buruknya itu mendadak surut saat ia menjadi juri dalam acara Junior Masterchef US ini. Rupanya, berhadapan dengan anak-anak yang menjadi kontestan program pencarian bakat memasak itu ampuh menurunkan temperamennya. Tapi ternyata hal tersebut juga berlaku kepada Joe yang memiliki sifat galak dan disiplin saat menjadi dewan juri. Mungkin hanya Christina Tosi yang cenderung dianggap sebagai juri yang baik dan ramah.

    Joe, dewan juri yang berpenampilan dengan kepala botak ini memang juga terlihat galak. Ada momen dimana ia mengeluarkan sifat galaknya tersebut. Lebih tepatnya kejadian tersebut terjadi pada saat kontestan Junior Masterchef US Season 6 harus menerima tantangan untuk memasak bagi 75 tamu undangan di acara pernikahan Sam dan Whitney.

    Para kontestan ini harus memasak Rack of Lamb with Butternut Squash and Apples dan Pan Seared Halibut with Roasted Cauliflower and Asparagus. Tantangan kedua dish ini memang terbilang cukup menantang terlebih lagi untuk anak-anak di usia mereka. Salah satu penilaian terhadap hidangan tersebut adalah tingkat kematangan yang dihasilkan dan disajikan. Disini, Cade berkesempatan menjadi Team Captain untuk Tim Merah sedangkan Ariana menjadi kapten di Tim Biru.

    Image courtesy from Instagram @juniorchefariana

    Mereka berdua sama-sama berusaha dan bekerja keras untuk berkomunikasi aktif dan mengatur anggota tim-nya untuk melalui tantangan ini. Mereka mulai membagi anggota tim-nya untuk bekerja di posisi masing-masing. Ariana dan Anthony bertugas untuk memasak rack of lamb. Hal tidak terduga pun tiba-tiba terjadi dimana hidangan rack of lamb mereka dikomplain salah satu tamu dikarenakan daging domba tersebut masih merah atau mentah.

    Alhasil, Joe dengan wajah kecewa mengembalikan hidangan tersebut kepada Tim Biru untuk diperbaiki. Joe pun memarahi Tim Biru dan meminta pertanggung jawaban atas kejadian itu. Otomatis disini yang harus bertanggung jawab adalah Ariana dan Anthony.

    Namun, dengan kedewasaan Ariana, ia pun tidak menangis dan tetap berusaha memperbaiki kesalahannya. Meskipun ada satu hidangan dari Tim Biru yang dikembalikan namun ternyata hal ini tidak menyebabkan kekalahan bagi Tim Biru karena pada akhirnya Tim Biru yang berhasil memenangkan tantangan tersebut.

    Kembali lagi pada sosok Ariana, gadis kecil ini berasal dari Minnesota yang merupakan daerah negara bagian terbesar berdasarkan area di Midwest dan terletak di sub-daerah yang dikenal sebagai Upper Midwest.

    Salah satu peninggalan masa lalu yang bertahan hingga kini adalah Minnesota State Capitol atau gedung pemerintahan Minnesota yang berlokasi di kota St. Paul, ibukota dari Minnesota. Gedung ini merupakan kantor dari 134 anggota legislatif, 67 orang senator, dan gubernur.

  • “Switch Off #SuroboyoPetheng”: Aksi Padamkan Lampu Selama 1 Jam

    Malam minggu di Surabaya kali ini tidak seperti biasanya. Warga Suroboyo (24/3/18) diajak untuk menghabiskan malam minggunya dengan aktivitas produktif dalam rangka penghematan energi yakni memadamkan listrik selama kurang lebih satu jam. Aksi unik dan kreatif ini disambut baik oleh banyak pihak tak terkecuali para warga, undangan, sponsor, media partner, dsb. Selama waktu yang sudah ditentukan yakni 60 menit, para tamu yang hadir diajak untuk berkumpul dan berinteraksi bersama. Acara ini diadakan di Perpustakaan Bank Indonesia mulai pukul 18.00–22.00 WIB.

    Bertajuk “Switch Off 2018” dengan hastag #SuroboyoPetheng, agenda ini merupakan agenda tahunan yang memang terbilang sukses yang rutin mengajak masyarakat untuk mematikan seluruh aliran listrik di rumah selama 60 menit. “Aksi yang sederhana, namun berdampak besar bagi kehidupan”, jelas Andriana Valiandra Tobing, Koordinator Earth Hour 2018.

    Kaleng bekas yang membentuk angka 60+ (Foto oleh: Yusuf)

    Dimeriahkan oleh Duta Earth Hour Surabaya

    Namun ada yang spesial di tahun ini dengan kehadiran Duta Earth Hour Surabaya yang begitu inspiratif. Tahun ini EH Surabaya menggandeng sederetan nama public figure yang cukup berpengaruh di Surabaya seperti Stephany Ruth Anchilla (Cak & Ning Surabaya 2017), Fariz Kevin Harlens (Cak & Ning Surabaya 2017), Cynthian Sunartio (Beauty Influencer), Fatma Ayu Husnasari (Puteri Indonesia Jawa Timur 2017), Sekar Fathiya Azni (Finalis Puteri Muslimah Indonesia 2017), dll. Terdapat 9 orang duta terpilih yang berasal dari berbagai macam background, mulai dari Cak & Ning Surabaya, Raka & Raki Jawa Timur, Puteri Indonesia Jawa Timur, Finalis Puteri Muslimah, co-founder Lingkar Sinergi, hingga CEO Dus Dus Duk.

    Keberadaan Duta EH Surabaya ini memang setiap tahun rutin diadakan dan dipilih. Duta EH Surabaya diartikan sebagai orang-orang atau sekumpulan public figure yang memiliki visi cinta lingkungan dan berkomitmen untuk turut menyebarkan pesan positif dan terlibat dalam aksi pelestarian lingkungan bersama Earth Hour Surabaya. Misalnya, komitmen Ning Chilla sebagai salah satu Duta Earth Hour Surabaya 2018 tidak hanya untuk mengikuti aksi terkait lingkungan saja. Lebih luas lagi, Chilla ingin terlibat aktif dalam gerakan positif yang menginspirasi anak muda untuk menerapkan gaya hidup sehat.

    Selain aksi pemadaman listrik, juga dimeriahkan dengan sejumlah kegiatan lainnya. Contohnya dengan menata kaleng bekas membentuk angka 60+. Kaleng ini pun diberi cahaya api dari energi minyak tanah. Ketika semua lampu dipadamkan, maka akan muncul cahaya kerlap-kerlip bertebaran dari kaleng.

    Dalam acara yang rutin yang digelar di Surabaya sejak 2011 ini, tema tahun ini yang coba diangkat adalah Connect to Earth. Tidak hanya mengajak peserta untuk berhemat energi saja, namun juga mengkampanyekan aksi peduli flora dan fauna. Katakanlah, di Surabaya yang merupakan kawasan pesisir, terdapat hutan mangrove yang merupakan tempat tinggal berbagai ekosistem.

    Selain itu, aksi ini juga merupakan salah satu aksi dari berbagai macam aksi lanjutan yang bisa dilakukan setiap hari seperti membawa botol minuman sendiri, membawa totebag atau tas belanja, hingga menghindari sampah makanan. Hal ini dimaksudkan untuk mencegah tertumpuknya sampah-sampah plastik yang secara perlahan akan merusak bumi. Tentunya tidak mudah untuk mengkampanyekan aksi-aksi tersebut karena hal paling penting adalah kesadaran dari individu masing-masing.

    Hiburan Musik dan Penampilan Lainnya

    Untuk menciptakan nuansa yang apik dan menghibur pengunjung, dimeriahkan pula dengan penampilan tari Sparkling, perkusi, magician, dan instalasi barang daur ulang. Instalasi barang daur ulang ialah kaleng bekas yang nantinya akan dijajar dan dibentuk tulisan 60+ dimana di dalamnya diisi dengan minyak jelantah. Sebelum terselenggaranya acara ini pun, komunitas Earth Hour Surabaya sudah menyebarluaskan informasi yang ada kepada masyarakat luas melalui media sosial dan media lainnya seperti radio. Harapannya yakni semoga agenda tahunan ini akan bersifat sustainable dan berdampak positif bagi seluruh lapisan masyrakat terutama di Surabaya.