Monthly Archives:February 2018

  • Kentalnya Nuansa Paris Fashion Week dalam Pameran Foto Erell Hemmer “La Galerie des Glaces”

    Jika biasanya mungkin Anda hanya melihat model-model luar negeri berlenggak-lenggok di TV kabel saja, nah kali ini Anda bisa menyaksikannya secara live dalam pameran yang bertemakan “La Galerie des Glaces”.

    Perempuan berkebangsaan Perancis, Erell Hemmer, ini terbilang sukses menyelenggarakan pameran fotografinya. Ia mengaku kepada tim wartawan kalau karyanya ini merupakan hasil jepretan kamera analog. Karya yang dihasilkan pun tidak gemerlap penuh warna-warni tetapi lebih dominan dalam bentuk hitam putih sehingga terkesan sangat artistik.

    Sebagai seorang fotografer, Erell Hemmer punya pilihan berbeda dalam menjalankan profesinya. Perempuan kelahiran Havre, Prancis pada tahun 1991, ini cenderung memilih kamera analog untuk mengabadikan objek yang disukainya.

    Saat ditanya karya mana yang merupakan favoritnya diantara semua hasil jepretannya, ia menunjukkan satu karya yang merupakan karya favoritnya.

    Foto Favorit Erell Hemmer

    Menurut Erell, dengan jumlah film yang terbatas, pengguna kamera analog memang dituntut untuk memiliki perhitungan yang matang dan teliti terhadap gambar yang akan diambilnya. Selain itu, penggunaan kamera analog juga diyakini Erell bisa menghasilkan karya yang lebih bagus nilai estetikanya.

    “Teknik untuk mengambil gambar dengan kamera analog sebenarnya gampang-gampang susah, karena membutuhkan kecermatan yang tinggi.”ungkap Erell dalam bahasa Indonesia

    “Perlu kecermatan yang tinggi sebelum kita memutuskan untuk mengabadikan sebuah momen. Sebab, berbeda dengan kamera digital, pakai kamera analog kita tak bisa mendelete hasil yang kita anggap jelek,” tutur Erell kepada tim wartawan

    Nuansa Paris Fashion Week jelas terasa disini karena sejatinya sendiri foto-foto yang dipamerkan itu Erell ambil di tengah pentas Paris Fashion Week pada tahun 2014 dan 2015.

    Pameran ini sendiri digelar dengan tema ‘La Galerie des Glaces – Behind The Scenes of Paris Fashion Week’ di Snow White Ballroom, Jayanata Beauty Plaza Surabaya hari Sabtu, 03 Februari 2018. Ada sekitar 52 foto yang dipajang, dan di tempat yang sama juga ditayangkan lima video bertema sisi lain Paris Fashion Week garapan Antoine Mengenot, rekan kerja Erell Hemmer.

    Short Speech dari Erell

    Perempuan yang kental akan logat Perancis-nya ini juga punya perhatian berbeda atas objek-objek foto yang diabadikannya. Semua gambar yang dipajang di ruang pamer tersebut bisa dibilang tak biasa dan unik. Erell memilih mengarahkan kameranya ke sisi lain yang lepas dari perhatian teman-teman fotografernya. Misalnya model yang sedang didandani make up artist (MUA) diambil dari sisi belakang sehingga hanya menampakkan bagian punggung dan rambut yang tergerai.

    Selain pameran foto, kegiatan yang berlangsung hingga 17 Februari 2018 itu juga diisi dua kali kegiatan workshop fotografi. Pertama pada Kamis (8/2) pukul 13.30, Erell akan menghadirkan tema ‘Fashion Street Photography’ di area pameran di Jayanata Beauty Plaza.

    Sedang workshop kedua pada Rabu (14/2) pukul 15.00, Erell mengangkat tema ‘Photo Zine. Kegiatan ini akan diselenggarakan di IFI West Surabaya – SUB Co2O, Jl Darmo Harapan 1 Surabaya.

  • Tuangkan Rasa Cintanya Terhadap Ulama Nusantara, Nabila Dewi Gayatri Gelar Pameran Tunggal Seni Rupa Bertajuk “Sang Kekasih #2”

    Nabila Dewi Gayatri menggelar pameran tunggalnya di Grand City Mall Surabaya, Jawa Timur. Pameran tunggalnya ini bertajuk “Sang Kekasih #2”, bermakna sebagai tanda bakti dan penghormatan. Sebelumnya, beliau sudah sempat menggelar pameran yang serupa di di Grand Sahid Jaya, Jakarta, tahun lalu yang bertajuk “Sang Kekasih #1”.

    Nabila Dewi Gayatri

    Perempuan yang tumbuh di lingkungan agamis ini menuturkan bahwa sebenarnya seni acara umum merupakan sesuatu yang dianggap “menyimpang” di kalangan pesantren. Tetapi beliau berusaha untuk menunjukkan kalau jalan seni inilah yang membuat beliau dapat menghayati hidup dan memahami cinta dengan sebenarnya.

    Pameran tunggal “Sang Kekasih #2” dibuka dan diresmikan oleh Ketua PWNU Jawa Timur, KH. Moh. Hasan Mutawakkil Alalla pada Sabtu, 03 Februari 2018 di Shao Gallery Grand City Mall Surabaya, dimana menampilkan 50 lukisan ulama-ulama besar dari Nadhdlatul Ulama dan tokoh agama. Pameran ini dibuka selama 10 hari sejak tanggal 3 hingga 12 Februari 2018 di Shao Gallery.

    Sesi Pembukaan dan Peresmian Pameran

    Dalam sambutannya, Ketua PWNU Jawa Timur, KH. Moh. Hasan Mutawakkil Alalla mengapresiasi karya-karya yang telah dihasilkan oleh Nabila. Goresan yang telah beliau torehkan dalam kanvas dan dipamerkan ini mewujudkan kecintaan beliau terhadap para ulama Nusantara.

    “Sebenarnya ada berbagai cara untuk mewujudkan kecintaan seseorang terhadap para ulama. Misalnya melalui doa, menulis buku, dan menceritakan kebaikan. Dan kali ini, Nabila melakukannya dengan wujud lukisan,” papar KH. Moh. Hasan

    Melalui pameran lukisan “Sang Kekasih” ini juga, Ketua PWNU Jawa Timur, berpesan agar masyarakat khususnya umat muslim senantiasa mencintai ulama, salah satunya Kiai NU.

    Nabila Dewi Gayatri seniman lukis kelahiran Gresik Jawa Timur mengatakan bahwa ide dasar terselenggaranya pameran ini adalah sebagai tanda bukti dan penghormatan kepada para ulama-ulama besar dan tokoh keagamaan. “Sudah seharusnya kita bersyukur karena mempunyai ulama teladan, yang mendedikasikan dirinya untuk agama, bangsa, dan negara. Mereka rela mengorbankan dirinya demi kepentingan orang lain.” jelas Nabila

    “Lukisan-lukisan yang saya pamerkan kali ini, bukan hanya bukti kesediaan atas janji, tapi juga sebagai tanda bakti, untuk Abah dan para Kiai NU lainnya. Mereka telah mengajarkan keteladanan, dan membumikan agama,” kata wanita yang akrab disapa Nabila usai peresmian pameran “Sang Kekasih” Jilid 2 di Shao Gallery.

    Menurut Nabila, di pameran Sang Kekasih #2 ada 12 karya baru, yaitu lima lukisan Gus Dur (165 x 125 cm) dan tujuh lukisan Kiai dari Aceh, Padang, Sambas (Kalimantan Barat), Banjarmasin (Kalimantan Selatan), Bali, Lombok, Sumbawa (Nusa Tenggara Barat). Lukisan-lukisan itu berukuran 120 x 100 cm. Jika dirupiahkan, satu lukisan yang Nabila pajang harganya berkisar antara 30 hingga 50 juta tergantung pada ukuran kanvasnya.

    “Harapan saya sebenarnya sama dengan pameran-pameran yang saya gelar sebelumnya, yaitu agar pameran itu menginspirasi semua khalayak yang hadir dengan mengingat dan memandang wajah-wajah teduh mereka, akan mengingatkan kembali jasa para ulama Nusantara dalam membingkai agama yang sejuk, Islam yang rahmatan lil ‘alamin,” papar Nabila

  • BBS TV Surabaya Gelar Pelatihan Jurnalistik Bertajuk “Teenizen Journalism” Session II

    Bukan pertama kalinya, BBS TV mengadakan acara bertajuk “Teenizen Journalism” ini. Gelaran pertamanya dilakukan tahun lalu dan telah menghasilkan sekitar 500-an hasil karya liputan berita pendidikan dan keunikan Surabaya.

    Menargetkan pesertanya untuk para pelajar tingkat SMP/MTs/sederajat atau SMA/SMK/MA sederajat se-Kota Surabaya, acara pelatihan jurnalistik ini terbilang sukses mendulang antusiasme dan respon positif dari banyak pihak.

    Menghadirkan tiga pembicara yang kompeten di bidangnya seperti Christian Natalia (Reporter BBS TV), Alwan Hilmi (Kameramen BBS TV), dan Nanda Pudjo (Editor BBS TV). Acara ini sendiri berlokasi di Gedung Wanita Chandra Kencana, Jl. Kalibokor Selatan, Surabaya.

    “Kemampuan Jurnalistik merupakan bagian kemampuan yang harus dimililki oleh siswa zaman now, karena semakin majunya zaman dibarengi dengan kemajuan teknologi informasi, maka kemampuan jurnalistik yang baik harus dimulai sejak dini, agar siswa mampu memilih dan memilah berita yang baik dan benar,” ujar Ibu Gunawan selaku Ketua Dharma Wanita Kota Surabaya yang membuka kegiatan ini

    Kegiatan utama di acara pelatihan jurnalistik ini adalah untuk mengajak peserta yang hadir untuk membuat tim dimana tiap tim terdiri dari 3 siswa yang berbeda peran yaitu selaku reporter, penata kamera, dan editor yang bertugas untuk membuat liputan yang menarik untuk dilombakan dan seluruh hasil karya akan ditayangkan secara eksklusif di acara BBS TV dengan judul “Liputan Jurnalis Sekolah” yang akan tayang tiap sorenya selama kurang lebih 30 menit.

    Teenizen Journalism Session II

    Peraturan yang dibuat disini cukup ketat dimana hasil karya yang diserahkan harus asli (orisinal), tidak duplikasi, tidak mengandung unsur SARA, kekerasan, pornografi, dan tentunya menjaga hak pribadi. Lalu, peserta lomba mengirimkan 2 karya jenis reportase atau jurnalisme siswa (non drama). Untuk durasi waktu videonya sendiri yakni maksimal 5 menit dengan format video (.mp4), (.mpeg2).

    Setelah mengikuti pelatihan para peserta diajak untuk membuat liputan dengan pendampingan dari mahasiswa dari STIKOM dan dari UNESA. Salah satu peserta yang hadir berasal dari tim jurnalistik MTsN 4 Kota Surabaya yang menerjunkan 2 tim untuk ikut pelatihan dan lomba peliputan berita, dengan didampingi oleh waka humas.

    Hampir 500 pelajar mengikuti acara ini dan mereka memang bertujuan untuk menyiapkan tenaga-tanaga jurnalistik yang mampu menyajikan liputan berita yang benar, menarik, bernilai dan memotivasi para viewers khususnya para generasi muda untuk selalu bisa memilih dan memilah berita yang benar.

    Harapannya, skills yang diperoleh para peserta saat pelatihan ini bisa menjadi bekal dan pengalaman yang berharga untuk pengembangan kemampuan dan keterampilan siswa dalam bidang jurnalistik.

     

  • Gus Ipul Resmikan Co-Working Space Baru di Surabaya: “Kids Zaman Now” Ngumpulnya Ya di “Omah Jaman Now”

    Sekarang ini sudah zamannya buat berkolaborasi dan kongkow asik di tempat yang nyaman. Alasan itu yang mungkin melatarbelakangi beberapa co-working space yang saat ini bermunculan di Surabaya. Seperti yang kita tahu sebelumnya sudah ada co-working space di Siola, Jalan Pacar, dan saat ini muncul satu lagi yang baru.

    Satu yang baru ini dinamakan “Omah Jaman Now”. Istilah “Jaman Now” ini merupakan sebuah gerakan dalam mengikuti arus perkembangan jaman. Sering kali digunakan sebagai julukan untuk menunjukkan hal yang kekinian.

    Ide awal berdirinya adalah untuk membuat pusat dalam menunjang kegiatan bagi para pegiat start-up atau perintis komunitas. Tidak hanya start-up digital, tetapi juga diperuntukkan bagi komunitas atau freelancer.

    Soft-opening “Omah Jaman Now” (Jumat, 02/02/18) ini dihadiri oleh bakal calon gubernur Jatim Saifullah Yusuf dan sangat diapresiasi oleh beliau. Rumah yang terletak di Jalan Bali Nomor 24 Surabaya itu merupakan tempat kumpul anak muda, untuk berdiskusi, kongkow, hingga berkolaborasi.

    Soft-Opening Co-Working Space “Omah Jaman Now”

    Omah Jaman Now awalnya diinisiasi Gus Ipul, sapaan akrab Saifullah Yusuf. Kemudian beberapa kelompok anak muda menerjemahkan dan menyulapnya sebagai tempat yang nyaman untuk mengaktualisasikan diri. “Omah Jaman Now ini adalah contoh nyata bahwa kreativitas dan kolaborasi adalah sepasang kaki yang berjalan beriringan,” ucap Gus Ipul saat membuka tempat tersebut.

    Pria berkumis tebal itu menambahkan, para anak muda atau generasi millenials adalah tonggak ekonomi kreatif. “Saya, meskipun dalam umur termasuk kategori generasi old, tapi tetap memiliki semangat zaman now,” tambahnya dengan senyuman

    Di kota yang terkenal akan semanggi ini sendiri, sebenarnya sudah banyak berdiri co-working space. Sayangnya tempat-tempat tersebut tidak bisa dikatakan terlalu eksklusif dikarenakan berbayar sehingga tidak sepenuhnya bisa memfasilitasi kegiatan komunitas yang ada.

    Gus Ipul berkomitmen akan terus mendukung dan mengembangkan semangat kreativitas, kolaborasi khususnya anak muda untuk memajukan ekonomi kreatif Jawa Timur. Diharapkan pula dapat menjadi tempat berkumpulnya pemuda Jawa Timur untuk mengekplorasi kemampuan mereka dalam memanfaatkan fasilitas yang ada dan membangun start-up.

    YOT Surabaya ke “Omah Jaman Now”

    Omah Jaman Now ini dibuka setiap hari mulai pukul 09.00-21.00 WIB. Tempat ini memiliki empat unit ruangan yang dapat diakses secara gratis yakni Lorong Inspiratif, Ruang Kolaboratif, Ruang Produktif serta Selasar Kreatif. Omah ini nantinya akan dihuni atau digunakan sebagai kantor bersama bagi kelompok-kelompok kreatif. Poin paling penting yakni tidak ada biaya yang dibebankan sama sekali untuk masuk ke area disini.

    Harapan lainnya yakni “Omah Jaman Now” mampu mengatasi masalah dalam menghadapi tantangan perkembangan jaman dan nantinya melalui cara ini dapat membuat database komunitas dan mengkolaborasikannya.