Monthly Archives:January 2018

  • Radar Surabaya Punya Gawe: Launching “Kembang Jepoen Art Gallery” dan Diskusi Cagar Budaya Surabaya

    Akhirnya setelah ditunggu-tunggu untuk sekian waktu yang cukup lama, pagi ini tadi (30/01/2018) Radar Surabaya meresmikan dan me-launching Kembang Jepoen Art Gallery-nya. Berlokasi di Gedung Kantor Radar Surabaya yang juga merupakan bangunan cagar budaya di kawasan kota lama itu, launching ini berjalan dengan lancar.

    Acara ini dihadiri oleh sejumlah pihak mulai dari perwakilan House of Sampoerna, Insan Pariwisata Indonesia, akademisi, dsb. Peresmian Kembang Jepoen Art Gallery ini sekaligus menjadi tempat diskusi cagar budaya bertajuk “Menggagas Wisata Kota Lama di Surabaya”.

    Acara dibuka oleh Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Surabaya, Widodo Suryantoro, dan sebagai Keynote speaker yang sekaligus membuka Kembang Jepoen Art Gallery, Radar Surabaya. Beliau menggantikan Ibu Tri Rismaharini selaku Walikota Surabaya dikarenakan Ibu Risma berhalangan hadir.

    Kembang Jepoen Art Gallery

    Menghadirkan pula pembicara yang kompeten di bidangnya seperti Drs. Ec Widodo Suryantoro MM selaku Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Surabaya, Dr. Purnawan Basundoro SS, M,Hum. Selaku Dosen Departemen Ilmu Sejarah, FIB Unair Tim Ahli Cagar Budaya Pemkot Surabaya, serta Ir. Freddy Handoko Istanto sebagai Director Surabaya Heritage Society dan Dosen Fakultas Industri Kreatif Universitas Ciputra Surabaya.

    Turut hadir pula Kapolrestabes Surabaya yang diwakilkan oleh Kasubbag Humas Polrestabes Surabaya, Kompol Lily Djafar. Mostly peserta yang hadir juga berasal dari generasi millenials. Kita tentu tahu bahwa baik buruknya masa depan negara juga ditentukan oleh generasi millenials, bukan?

    Poin utama yang perlu digarisbawahi adalah kota Surabaya merupakan Kota Pahlawan dan juga salah satu kota bersejarah. Dikatakan sebagai Kota Pahlawan, tentunya Surabaya memiliki banyak catatan sejarah yang tidak bisa dan tidak boleh untuk dilupakan. Justru catatan sejarah inilah yang harus selalu diingat dan dijaga baik-baik supaya eksistensinya tetap ada.

    Sesi Diskusi Cagar Budaya “Menggagas Wisata Kota Lama di Surabaya”

    Harapannya yakni setiap kali siapapun yang berkunjung ke Surabaya, tidak hanya disuguhkan dengan pemandangan deretan mall yang luas tetapi bisa menunjukkan bahwa Surabaya juga memiliki wisata kota lama. Sebagai contoh, kawasan Kota Tua Jakarta atau Jalan Asia Afrika Bandung.

    Melalui diskusi cagar budaya ini, Pemkot Surabaya melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata berupaya agar tempat maupun bangunan bersejarah yang ada di Surabaya bisa dimunculkan kembali dan dijaga keberadaannya serta “disulap” sebagai wisata kota lama di Surabaya yang akan menjadi salah satu destininasi unggulan dari Surabaya.

    Tentu tidak mudah untuk mewujudkan semua ini, diperlukan kerjasama dari semua pihak. “Tetapi sebelum memulai semuanya, alangkah baiknya kita mengetahui terlebih dahulu definisi kota lama yang dimaksudkan itu seperti apa dan mana saja, supaya kemudian bisa langsung mengambil tindakan.” pendapat jurnalis JTV

    Pak Sabar yang merupakan pemrakarsa Kampung Lawas Maspati ini menambahi, “Titik awalnya bisa dimulai dari kampung. Surabaya ini mempunyai banyak kampung yang bisa dimanfaatkan asalkan semuanya mau gerak.”

    Beralih ke penjelasan Pak Widodo, “Mewujudkan ide tersebut bisa dilakukan melalui berbagi upaya. Upaya tersebut salah satunya mengajak lurah dan camat di seluruh Surabaya melakukan pendataan terhadap bangunan-bangunan lawas di daerahnya masing-masing.” Bangunan bersejarah tersebut akan menjadi magnet bagi pengembangan wisata kota lama yang akan dirintis. “Tim kajian yang nantinya akan menilai bangunan tersebut masuk kota lama atau tidak.”

    Jika menilik dari sisi museum di Surabaya, sebenarnya keberadaan museum ini dinilai sangat bagus akan tetapi kurang hidup. “Konsep museum itu jangan hanya sebagai tempat penyimpanan benda-benda bersejarah saja, akan tetapi harus dimunculkan berbagai aktivitas untuk menghidupkan museum ini. Katakan saja, Museum Bank Indonesia mengadakan aktivitas pencetakan uang layaknya di masa lampau,” kata Pak Purnawan

    Pak Freddy menerangkan bahwa, “Di Surabaya ini jangan hanya menampilkan gedung-gedung. Turis yang saya ajak saya kesini bilang begitu karena di negaranya sana sudah banyak gedung seperti ini.” Menurut beliau, “Kota yang tidak punya catatan sejarah adalah kota yang tidak beradab.”

    Insan Pariwisata Indonesia berkata, “Sebaiknya ada list untuk tempat mana saja yang sudah siap kiranya untuk didatangi wisatawan.” Kemudian dari sisi akadimisi, “Bangunannya harus lebih dirawat agar tetap terlihat baik dan sedap dipandang mata.”

    Menurut Pak Purnawan, “Bangunan cagar budaya berumur kurang lebih 20 tahun dan harus memiliki unsur ke-Surabaya-an-nya misalkan jengki dll.”

    Kesimpulan dari diksusi ini adalah harapan terbesar dipegang dan berada di tangan millenials. Karena jika tidak diturunkan kepada generasi ini, lalu siapa yang akan melanjutkannya? Semoga hasil diskusi ini segera direalisasikan dan kerjasama dari semua pihak sangat diperlukan demi menciptakan Surabaya yang lebih baik lagi ke depannya.

  • Belajar Public Speaking dan Leadership bersama Surabaya Heroes Toastmasters Club

    Hari Sabtu kemarin (27/01/2018), YOT Surabaya berkesempatan untuk hadir dan belajar public speaking bersama Surabaya Heroes Toastmaster Club. Tema diskusi kali ini adalah Local Movies yang disukai atau tidak disukai. Setiap kali beropini di hari itu, para audiens diharapkan bisa memunculkan kata “vivid” (adj) untuk Word of The Day.

    Menariknya dari acara ini adalah adanya tim evaluasi yang terdiri daru grammarian, timer, ballot counter, dan “Ah” and WoD counter. Tugas dari masing-masing anggota tim ini sangat unik sekali seperti Grammarian yang harus mengkoreksi grammar dari tiap speaker, lalu ada timer yang bertugas untuk mengamati waktu atau durasi dari para speaker dimana hanya diberikan waktu sekitar 2 menit untuk impromptu speech dan lima sampai enam menit untuk prepared speech.

    Setelah sambutan, audiens secara volunteering atau ditunjuk untuk melakukan impromptu speech dengan topik yang sudah disediakan dan tanpa persiapan sebelumnya. Ada 10 audiens yang maju dan 10 topik yang disediakan. Salah satu audiens yang berani dan berkesempatan untuk maju ke depan adalah Ficca Ayu, Vice Director of YOT Surabaya. Kebetulan ia mendapatkan topik “What do you think of Indonesian movie director?”

    Menurut Ficca, para sutradara film di Indonesia saat ini sudah semakin baik dan bagus dalam menghasilkan film-film di Indonesia misalnya Filosofi Kopi 2. Dari segi pemilihan lokasi cerita, pemain atau cast, alur cerita, komposisi musik dan semuanya dikemas dengan baik.

    “Saya suka saat sutradara ini memilih kopi sebagai subjek utama dari film dan memilih lima wilayah dari Indonesia untuk setting film-nya.”ujarnya

    Selain ada table session, juga ada prepared speech session yang dibawakan oleh Mawardi dan Baby. Mawardi menyampaikan classic book review yang berjudul “How to Attract Beautiful Girls and Have Date by Don Pedros”, sedangakan Baby menjelaskan tentang Lesson Learned dari pengalamannya sendiri dalam hal pekerjaan.

    Acara ditutup dengan pemberian awards untuk pembicara terbaik dari audiens, pembicara terbaik dari Toastmasters, dan evaluator terbaik.